5 Saham Dibuang, Dari BBNI hingga ICBP Tak Lolos Reviu FTSE ESG Index
:
0
5 Saham Dibuang, Dari BBNI hingga ICBP Tak Lolos Reviu FTSE ESG Index. Dok. ESG Today
EmitenNews.com - Peta aliran modal hijau (green liquidity) asing di Bursa Efek Indonesia menghadapi tekanan baru. Penyedia indeks global FTSE Russell resmi mencoret lima saham emiten berkapitalisasi pasar jumbo asal Indonesia dari daftar konstituen FTSE ESG Low Carbon Select Indexes pada evaluasi kuartalan (quarterly review) yang dirilis pada 10 September 2026.
Berdasarkan dokumen teknis perubahan konstituen tersebut, kelima emiten domestik didepak dari sub-indeks spesifik FTSE Emerging ESG Low Carbon Select Index. Emiten yang terdampak mencakup PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). Pukulan ganda dirasakan oleh BBNI, yang secara simultan juga dieliminasi dari daftar konstituen FTSE Asia Pacific ex Japan ESG Low Carbon Select Index.
Sejalan dengan status index freezing kepada Pasar Modal Indonesia, tidak ada satu pun nama baru dari bursa domestik yang berhasil masuk (inclusions) untuk menambal posisi lima emiten tersebut. Keputusan manajer indeks untuk tidak memasukkan wakil Indonesia ini mempersempit saluran dana institusional global yang berorientasi pada kepatuhan environmental, social, and governance (ESG).
Bobot Tergerus, Valuasi Indonesia Makin Kerdil
Tersingkirnya BBNI, ICBP, dan AMMN memiliki dampak struktural pada posisi pasar modal Indonesia di mata investor institusi asing. Merujuk pada pembaruan dokumen pengungkapan fundamental (Factsheet) indeks FTSE Emerging ESG per 31 Agustus 2026, representasi Indonesia secara total—sebelum pencoretan kelima saham ini—tercatat sangat lemah dengan bobot kapitalisasi hanya 0,56 persen. Angka ini berasal dari sembilan konstituen aktif.
Porsi valuasi 0,56 persen tersebut jauh tertinggal dibandingkan dengan agregat bobot negara berkembang lainnya, bahkan di lingkup Asia Tenggara. Sebagai perbandingan, negara serumpun seperti Malaysia menempati porsi bobot mencapai 1,71 persen (dengan 26 perusahaan konstituen), dan Thailand memiliki bobot 1,80 persen (dengan 22 perusahaan konstituen) di dalam FTSE Emerging ESG.
Baca Juga: Efek Data Center! Laba DMAS Meroket 175% & Bebas Utang Bank
Terkikisnya lima dari sembilan pilar utama yang menopang persentase 0,56 persen tersebut dipastikan akan membuat likuiditas Indonesia di keranjang ESG global ini berada di titik nadir dan semakin terpinggirkan dari radar manajer investasi global.
Dominasi tertinggi di indeks yang dirancang untuk mengintegrasikan tujuan investasi dan parameter ESG tanpa memiringkan netralitas industri tersebut dikuasai oleh bursa Taiwan (37,07 persen), China (22,48 persen), dan India (15,80 persen). Ketimpangan bobot yang drastis ini menunjukkan emiten berskala raksasa (blue-chip) di Taiwan, China, dan India memiliki struktur transisi rendah karbon yang dinilai jauh lebih solid dan mampu menarik arus kas investasi yang masif jika dibandingkan dengan kinerja keberlanjutan emiten raksasa di dalam negeri.
Fokus Teknologi Menekan Sektor Komoditas dan Finansial
Related News
Efek Data Center! Laba DMAS Meroket 175% & Bebas Utang Bank
TOWR Rambah Bisnis Fiber Optik, Klien XL dan Indosat Jadi Kunci
5 Saham RI Didepak Indeks Syariah FTSE, Aliran Modal Pindah ke Nvidia
Emiten Operator Bus Tije Dicap HSC, Digembok BEI, Kena Notasi C Pula
Bisnis Sewa Genset Meroket 1.574%, Begini Rapor Perdana BACH Pasca-IPO
Adu Taktik 4 Big Banks, Siapa Paling Jago Cetak Cuan?





