Abaikan Wall Street, IHSG Orbit Zona Hijau
:
0
Seorang pengunjung mengabadikan pergerakan IHSG melalui smartphone. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Indek bursa Wall Street mengakhiri pekan lalu bervariasi mayoritas melemah. Dow Jones dan S&P 500 terkoreksi setelah mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah pada perdagangan sebelumnya. Nasdaq kembali melajutkan penguatan seiring optimisme investor terhadap peluang pemangkasan suku bunga acuan pada pertemuan mendatang.
Berdasar CME FedWatch tool, probabilitas pemangkasan suku bunga acuan 25 basis points (bps) pada pertemuan 17 September 2025 tercatat 93,4 persen naik dari seminggu sebelumnya 89 persen. Lompatan probabilitas itu, seiring lonjakan klaim pengangguran mingguan.
Data tersebut untuk periode berakhir pada 6 September (tertinggi sejak Oktober 2021) di tengah inflasi lebih tinggi dari perkiraan. Koreksi mayoritas indeks bursa Wall Street diprediksi menjadi sentimen negatif pasar. Mulai ada aksi beli investor asing, dan lonjakan harga mayoritas komoditas berpeluang menjadi sentimen positif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG).
Oleh karena itu, indeks diprediksi bergerak bervariasi cenderung menguat. So, sepanjang perdagangan hari ini, Senin, 15 September 2025, indeks akan menjelajahi kisaran support 7.790-7.725, dan resistance 7.920-7.980. Menilik data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan saham berikut.
Yaitu, Bumi Resources Minerals (BRMS), J Resources Asia Pacifik (PSAB), Aneka Tambang alias Antam (ANTM), Merdeka Copper Gold (MDKA), Semen Indonesia alias SIG (SMGR), dan Indo Semen Tunggal Prakarsa (INTP). (*)
Related News
Konsumen Kripto di Indonesia Capai 23,21 Juta, Ini kata Bittime
BNLI Gandeng OJK Gelar Permata CERITA, Literasi Keuangan di 24 Kota
Rencana MSCI Tidak Tepat, Reformasi Pasar Modal On The Right Track
Anomali, 10 Saham Menguat Kala IHSG Jebol 11,57 Persen
IHSG Terjun Bebas 11,57% Dekati 5.100 Usai Pengumuman MSCI
Konsultasi MSCI Dimulai, Rekam Jejak Hanya Peru & Nigeria yang Selamat





