EmitenNews.com - Aksi jual besar-besaran di pasar obligasi global secara bersamaan menghantam negara-negara maju dan negara-negara berkembang. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang jangka 20 tahun melonjak ke level tertinggi sejak 1996, bersamaan dengan rupiah, peso Filipina, dan rupee India yang merosot menuju titik terendah sepanjang sejarah, karena derasnya arus keluar modal.

Jepang akan mengadakan lelang obligasi pemerintah jangka 20 tahun pada tanggal 20 Mei, sebuah peristiwa yang dipandang pasar sebagai barometer kunci untuk mengukur sentimen pasar obligasi global. Lelang ini berlangsung kurang dari 24 jam setelah imbal hasil obligasi jangka waktu tersebut mencapai level tertinggi dalam hampir 30 tahun, sementara imbal hasil obligasi pemerintah Jepang jangka 30 tahun dan 40 tahun juga mencetak rekor baru minggu ini.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tak henti-hentinya memberikan tekanan pada perekonomian negara berkembang di Asia. Imbal hasil obligasi pemerintah AS 30 tahun kini telah menembus angka 5%, mendekati level tertinggi yang belum pernah terlihat sejak tahun 2007, mendorong modal global kembali ke aset berdenominasi dolar.

Rupiah sempat menyentuh titik terendah sepanjang masa di angka 17.728 per dolar AS, sementara rupee India berfluktuasi di dekat 96,3 per dolar, dan peso Filipina berjuang di dekat titik terendah historisnya sendiri.

Indeks Obligasi Filipina Bloomberg yang didenominasikan dalam dolar AS telah turun 13% sejak awal tahun, kinerja terburuk di antara pasar negara berkembang Asia. Dengan pengecualian yuan Tiongkok, mata uang utama Asia secara umum melemah sejak eskalasi situasi di Iran.

Kepala Ekonom Asia HSBC, Frederic Neumann, seperti dikutip BigGo Finance mengatakan: "Pertumbuhan di sebagian besar wilayah Asia akan menghadapi tekanan yang lebih besar, menempatkan bank sentral dalam dilema mengenai apakah dan bagaimana menanggapi tekanan harga yang melonjak. Situasinya bisa menjadi lebih parah — kita belum keluar dari kesulitan."

Pasar memperkirakan Bank Indonesia akan mengumumkan kenaikan suku bunga pada hari Rabu ini, setelah sebelumnya meningkatkan intervensi untuk mempertahankan rupiah, yang telah berulang kali mencapai titik terendah sepanjang masa. Bank Indonesia juga membeli obligasi jangka panjang sambil menjual obligasi jangka pendek untuk menekan imbal hasil jangka panjang, strategi yang mirip dengan "Operasi Twist" yang diterapkan pada tahun 2022.

Menteri Keuangan Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pada hari Selasa bahwa pemerintah telah mulai membeli kembali obligasi negaranya sendiri untuk menenangkan kenaikan imbal hasil dan mengekang arus keluar modal.

Namun, Wakil Kepala Ekonom Pasar Berkembang Capital Economics, Jason Tuvey, berpendapat bahwa kenaikan suku bunga pun hanya akan memberikan jeda sementara. Agar mata uang dapat menguat, pemerintah pada akhirnya perlu meninggalkan kebijakan populis dan intervensionis yang dijalankan sejak Presiden Prabowo Subianto menjabat.

Kekhawatiran investor terus membara terkait rencana pengeluaran fiskal Prabowo yang besar-besaran, termasuk program andalannya,
makan bergizi gratis (MBG) yang telah memperburuk kekhawatiran pasar atas defisit fiskal yang semakin melebar.(*)