Analis Market (04/01/) : IHSG Berpotensi Koreksi Dikisaran 5767-5653
EmitenNews.com- Hari ini adalah perdagangan Perdana di Bursa Efek Infonesia (BEI) pada awal tahun 2021, Anilis Sucor Sekutitas Indra Tedja Kusuma mengatakan IHSG mengalami kesulitan memperbaiki (koreksi ringan) menuju target dikisaran 5767-5653. Bursa Wall Street perdagangan akhir tahun 2020 yang penuh gejolak dengan rekor baru, meski ekonomi masih memiliki jalan pemulihan yang panjang ke dalam penjara. Klaim pengangguran awal mingguan yang berakhir pada 26 Desember menurun untuk minggu kedua berturut-turut menjadi 787.000, atau lebih baik dari perkiraan sejumlah ekonom yang memperkirakan 828.000. Dow Jones ditutup naik 196,92 poin (+ 0,65%) menjadi 30.606,48, S&P 500 menguat 24,03 poin (+ 0,64%) menjadi 3,756,07 dan Nasdaq bertambah 18,28 poin (+0,14 %) menjadi 12.888,28. Secara mingguan, ketiga bursa saham utama AS bergerak menguat di pekan terakhir tahun 2020, dengan Dow Jones berhasil naik + 1,35%, S&P 500 menguat + 1,43% dan Nasdaq meningkat + 0,65%. Sementara untuk sepanjang tahun 2020 lalu, meski pasar penuh gejolak akibat ekonomi terguncang oleh pandemi virus corona, namun Wall Street mampu mencatatkan data tahunan yang solid dan spektakuler oleh stimulus baik fiskal dan moneter yang besar-besaran. Sepanjang tahun 2020, Dow Jones berhasil menguat + 7,25%, S&P 500 naik + 16,26% dan Nasdaq melonjak + 43,64%. Sementara dari dalam negeri, IHSG melemah 57,101 poin (-0,95%) ke level 5.979,073 pada perdagangan terakhir tahun 2020, meski investor asing membukukan pembelian bersih senilai Rp. 508 miliar di pasar reguler. Sepanjang pekan terakhir tahun 2020, IHSG tercatat melemah -0,49%. Investor asing membukukan net buy sebesar Rp 272 miliar dalam sepekan. Sementara untuk sepanjang tahun 2020, IHSG tercatat melemah sebesar -5,09% dengan diikuti keluarnya dan asing senilai Rp 53 triliun di seluruh pasar. IHSG kembali ditutup melemah dan melanjutkan penurunanan untuk pekan ke-2 secara berturut-turut. Kekhawatiran investor akan diberlakukannya kembali PSBB ketat di DKI Jakarta menjadi sentimen negatif yang menekan pergerakan IHSG. Kekhawatiran ini muncul setelah melihat lonjakan tren kasus baru infeksi Covid-19 yang terus meningkat, menyebabkan okupansi ruang ICU rumah sakit di wilayah DKI Jakarta yang hampir penuh. Selain itu pelaku pasar juga tampaknya berhati-hati atas dampak dari perkembangan Covid-19, setelah menteri luar negeri mengumumkan bahwa Indonesia bakal menutup perbatasannya terhadap wisatawan asing dari seluruh dunia selama dua minggu pertama tahun 2021, ditengah kekhawatiran atas strain varian virus corona jenis baru dari Inggris. Yang menjadi pertanyaan pelaku pasar saat ini adalah apakah koreksi IHSG di 2 pekan terakhir tahun 2020 akan mengakhiri tren naik IHSG untuk sementara, ataukah kenaikan ini masih akan berlanjut di bulan Januari mengingat adanya fenomena awal tahun tahun di bursa yang biasa kita kenal dengan nama January Effect? Well… untuk memprediksikannya mari cek melalui analisa teknikal. Technically dari weekly chart, IHSG terlihat mengalami koreksi ke area support dari downtrend resistance line (garis warna hitam) yang telah di break out dikisaran 5950. Apabila IHSG mampu bertahan di support tersebut dan bergerak menguat lagi, terbuka ruang kenaikan menuju target terdekat dikisaran 6348. Dengan target kenaikan selanjutnya dikisaran 6581-6693 jika berlanjut. Namun jika IHSG gagal bertahan di support 5950 dan bergerak turun ke bawah, terbuka potensi koreksi wajar (mild correction) menuju target dikisaran 5767-5653. Dan apabila koreksinya terus berlanjut, maka ada potensi bagi IHSG untuk turun menuju target selanjutnya dikisaran 5475-5381. Perhatikan level 5381 adalah batas koreksi wajar bagi IHSG yang diijinkan secara teknikal. Karena apabila turun di bawah level tersebut maka uptrend indeks telah patah dan akan mengubah arah tren IHSG. Jika IHSG mengalami penurunan maka target mild correction di 5767-5653 adalah target koreksi realistis di bulan Januari sebelum IHSG bergerak menguat lagi. Kami percaya kenaikan IHSG di tahun 2021 ini masih akan berlanjut karena adanya beberapa katalis positif yang akan mendorong pasar saham, diantaranya adalah likuiditas global dan domestik yang berlimpah karena adanya stimulus dari bank sentral dan pemerintah (printing money dan quantitative easing), suku bunga yang rendah, pemulihan ekonomi yang didorong oleh vaksinasi, serta kebijakan pemerintah berupa Omnibus Law, RUU ketenagakerjaan dan SWF (Soverign Wealth Fund). Jika terjadi koreksi maka ini merupakan kesempatan untuk melakukan akumulasi, sebab kami percaya bahwa tahun 2021 ini adalah tahun pemulihan bagi ekonomi pasca terdampak pandemi Covid-19. Beberapa sekuritas besar telah membuat target kenaikan IHSG pada tahun ini berada dikisaran 6750 hingga 7150. Meski IHSG masih akan bergerak naik di tahun ini, namun kenaikannya tidak akan berjalan mulus (smooth), karena masih ada ketidakpastian dari permasalahan yang di bawa dari tahun 2020 lalu. Lonjakan kasus baru Covid-19 di seluruh dunia yang biasanya akan diikuti dengan lockdown atau PSBB akan membuat proses pemulihan ekonomi berjalan lebih lambat dari perkiraan. Kemudian kekhawatiran mutasi virus corona strain baru serta masalah distribusi dan proses vaksinasi yang tidak mudah karena banyaknya orang yang akan menerima vaksin, potensi lanjutan trade war antara AS-China, serta munculnya dugaan kasus yang menimpa BPJS Ketenagakerjaan yang diperkirakan lebih besar dari kasus Jiwasraya dan Asabri, akan menjadi kerikil-kerikil yang menghalangi laju penguatan IHSG. Untuk minggu ini seperti biasa di awal bulan, pelaku pasar akan mencermati rilis data manufaktur dan inflasi bulan Desember 2020 pada hari senin. Sedangkan pada hari selasa akan dirilis data penjualan ritel dan pada hari kamis akan dirilis data cadangan devisa akhir Desember 2020. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari investor di pekan ini antara lain adalah: Senin 4 Januari 2021: Rilis data Caixin Manufaktur China, Meeting OPEC Rabu 6 Januari 2021: Pernyataan Gubernur BOE Bailey, Laporan meeting The Fed Kamis 7 Januari 2020: Rilis data perdagangan AS Jum'at 8 Desember 2020: Rilis data pekerjaan dan tingkat pengangguran AS
Related News
Transparansi 1 Persen - Titik Buta Pengawasan Pasar: Studi Kasus TPIA
Memaknai Rating Outlook Negatif Fitch dan Moody's untuk Indonesia
Borok Setelah Satu Persen Dibuka Part 3
Borok Setelah Satu Persen Dibuka Part 2
Borok Setelah Satu Persen Dibuka Part 1
Beda Cara 3 Bank Himbara Bertahan di Tahun 2025, Jagoanmu yang Mana?





