Analis Market (28/12/2020) : IHSG Masih Bergerak Uptrend dan Mencoba Bertahan Di Level Psikologis 6.000
EmitenNews.com- Riset Harian Sucor Sekuritas, Indra Tedja Kusuma menyebutkan, tiga hari perdagangan bursa menjelang tutup tahun 2020 IHSG akan berkonsolidasi dikisaran area trading 5.853 hingga 6.195, dengan kecenderungan bergerak sideways dalam jangka pendek. Bursa Wall Street menutup perdagangan akhir pekan dengan membukukan kenaikan dalam perdagangan yang singkat jelang liburan Natal. Volume perdagangan relatif rendah karena jam perdagangan yang dipersingkat untuk persiapan Malam Natal. Pasar mengabaikan kritik Presiden Donald Trump terhadap RUU stimulus karena veto formal dianggap tidak mungkin, sebab legislasi stimulus tersebut telah disahkan oleh DPR dan Senat dengan mayoritas menentang veto tersebut. Dan jika Trump berhasil memveto legislasi itu, maka Joe Biden yang akan menjadi presiden AS pada tanggal 20 Januari 2021 mendatang, dapat segera menandatanganinya. Di sisi lain, Uni Eropa dan Inggris pada Kamis berhasil mencapai kesepakatan perdagangan bersejarah (Brexit), setelah lebih dari 4 tahun Inggris memilih untuk meninggalkan blok tersebut. Dow Jones ditutup naik 70,04 poin (+0,23%) menjadi 30.199,87, S&P 500 menguat 13,05 poin (+0,35%) menjadi 3.703,06 dan Nasdaq bertambah 33,62 poin (+0,26%) menjadi 12.804,73. Dalam sepekan terakhir, ketiga bursa saham utama AS berakhir mixed dengan Dow Jones naik tipis +0,07% dan Nasdaq menguat +0,38%, sedangkan S&P 500 melemah -0,17%. Sementara dari dalam negeri, IHSG mengakhiri perdagangan akhir pekan pada hari rabu sebelum libur natal dengan pelemahan sebesar 14,58 poin (-0,24%) ke level 6.008,709. Investor asing membukukan penjualan bersih sebesar Rp. 547 miliar di pasar reguler. Dalam sepekan terakhir, IHSG mengalami pelemahan sebesar -1,57% dengan investor asing membukukan net sell senilai Rp 1,86 triliun di pasar reguler. Jelang libur natal 2020, IHSG akhirnya mengalami pelemahan secara mingguan setelah terus reli menguat pada beberapa pekan sebelumnya. Pelemahan IHSG terjadi karena tekanan dari faktor eksternal. Kemunculan varian strain baru virus Korona di Inggris telah memicu ketakutan investor global sehingga menjadi sentimen negatif bagi pasar emerging markets dan menyebabkan turunnya harga beberapa komoditas dunia. Hal ini menjadi sentimen negatif yang memicu pelemahan IHSG sepanjang pekan lalu. Sementara sentimen dari dalam negeri cenderung mixed. Penambahan kasus baru virus korona secara nasional yang kembali mencapai rekor, serta dipangkasnya proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke kisaran -2,2% hingga -1,7% atau lebih buruk dibandingkan proyeksi sebelumnya yang dibuat oleh Kemenkeu pada periode September 2020 di rentang -1,7% hingga -0,6%, menjadi katalis negatif bagi IHSG. Sementara reshufle kabinet atau perombakan jajaran menteri yang dilakukan oleh Presiden Jokowi disambut cukup positif oleh para pelaku pasar. IHSG masih bergerak uptrend dan mencoba bertahan di level psikologis 6.000. Sempat menguat hampir tembus level psikologis 6.200, IHSG terkena aksi profit taking dan harus berbalik arah hingga level 5.853, sebelum akhirnya kembali ke atas level psikologis 6.000 dan ditutup di level 6.008 pada akhir perdagangan pekan lalu. Secara teknikal IHSG masih terlihat bergerak naik di dalam uptrend channel jangka pendeknya. Namun indikator teknikal MACD mulai terlihat death cross, sehingga mengindikasikan kecenderungan short term IHSG untuk mulai bergerak negatif dan memasuki fase konsolidasi. Diperkirakan untuk minggu ini IHSG akan berkonsolidasi dikisaran area trading 5.853 hingga 6.195, dengan kecenderungan bergerak sideways dalam jangka pendek. IHSG akan mencoba untuk bertahan di area support gap 5.823-5.854 pada pekan ini. Jika gagal bertahan, terbuka ruang bagi IHSG melanjutkan pelemahannya menuju target di level 5.563 sebagi perkiraan support selanjutnya. Namun sebaliknya apabila mampu menguat menembus keatas 6.195, terbuka peluang bagi IHSG untuk melanjutkan uptrendnya menuju perkiraan resistance di level 6.348. Untuk minggu terakhir di tahun 2020 ini, tidak ada data ekonomi penting dari dalam dan luar negeri yang ditunggu oleh pelaku pasar pada pekan ini, karena market akan memasuki libur jelang akhir tahun. Dengan hanya menyisakan 3 hari perdagangan sebelum akhir tahun 2020, diperkirakan IHSG akan melanjutkan pola konsolidasinya dengan bergerak sideways dalam jangka pendek.
Related News
Transparansi 1 Persen - Titik Buta Pengawasan Pasar: Studi Kasus TPIA
Memaknai Rating Outlook Negatif Fitch dan Moody's untuk Indonesia
Borok Setelah Satu Persen Dibuka Part 3
Borok Setelah Satu Persen Dibuka Part 2
Borok Setelah Satu Persen Dibuka Part 1
Beda Cara 3 Bank Himbara Bertahan di Tahun 2025, Jagoanmu yang Mana?





