Analis Sebut Sektor-Sektor Ini Booming Imbas Perang Timteng, Apa Saja?
Potret merah papan perdagangan BEI kala diterpa sentimen eskalasi peperangan Iran dan AS-Israel. Foto: EmitenNews.
EmitenNews.com - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah atas eskalasi Iran dan AS–Israel dinilai berpotensi mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas global dan membuka peluang bagi sejumlah sektor di pasar modal Indonesia.
Analis dan Pengamat Pasar Modal, Hans Kwee dalam paparannya di Investor Relations Forum (IRF) 2026 di Gedung Bursa Efek Indonesia mengatakan konflik yang terjadi di kawasan teluk berpotensi memberikan dampak positif bagi sektor-sektor berbasis komoditas, termasuk energi dan logam.
Menurut Hans, acuan tren investasi global saat ini mulai mengubah pendekatan dalam berinvestasi, dari sebelumnya mencari peluang berdasarkan negara (search by countries), kini akan menjadi lebih spesifik yakni, melalui basis sektor industrinya.
“Kalau disampaikan (Presiden) Bloomberg, (target investasi) global kini akan mulai search by sector,” ujar Hans, dikutip Rabu (11/3/2026).
Dengan pendekatan tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menarik minat investor global karena memiliki basis komoditas yang kuat.
“Berarti nanti Indonesia ini sangat menarik karena kita adalah negara komoditas. Beberapa saat ke depan kita akan memasuki periode 'Grand Supercycle' kenaikan komoditas,” kata Hans.
Harga minyak yang sempat menguat hingga menyentuh $100 per barel, Hans menilai kenaikan harga minyak akibat konflik geopolitik tidak akan berlangsung lama. Menurutnya, harga minyak berpotensi kembali turun seiring melambatnya pertumbuhan ekonomi global.
“Kita tidak berpikir minyak ini akan sustainable naik tinggi. Harusnya minyak akan segera turun,” ujar Hans.
Ia memperkirakan harga minyak dalam jangka panjang akan kembali berada pada kisaran normal. Ia mengatakan, “Kalau kita lihat minyak itu sebenarnya normalnya 60–70 dolar per barel. Artinya spekulasi di dunia tidak jadi pilihan utama.”
Di sisi lain, ia menilai tema utama ekonomi global ke depan masih akan didorong oleh perkembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
“Apakah AI itu mengalami bubble? Sebenarnya enggak. Bubble itu terjadi kalau capex dari satu industri itu 2–5 persen dari GDP. Saat ini masih di bawah 1 persen,” ujar Hans.
Ia menambahkan, permintaan terhadap infrastruktur teknologi seperti pusat data juga terus meningkat.
“Data center demand-nya begitu dibuka langsung penuh. Berarti masih (punya) growth atau bertumbuh,” kata Hans.
Namun, perkembangan industri AI juga memunculkan tantangan baru bagi perekonomian global, yakni keterbatasan infrastruktur energi.
“Yang jadi masalah dunia saat ini adalah kita kekurangan infrastruktur listrik,” terang Hans.
Menurutnya, pertumbuhan sektor teknologi berkaitan industri AI akan mendorong kebutuhan infrastruktur seperti pusat data dan listrik dalam partai besar, yang pada akhirnya justru mengerek celah permintaan terhadap sumber energi dan bahan baku industri.
“Listrik itu paling murah tenaga pemabngkitnya, ya, tenaga nuklir, nomor dua batu bara. Jadi batu bara itu akan booming di periode ke depan,” kata Hans.
Related News
Saham Tambang Rontok, IHSG Sesi I (11/3) Melemah Tipis ke 7.437
Adaptif! KISI Siapkan 4 Keunggulan di Satu Aplikasi
Transparansi dan Reformasi Pasar Modal Butuh Komunikasi Erat
Menperin: Ramadan-Idulfitri Momentum Dongkrak Industri Halal
Terseret Wall Street, IHSG Potensial Koreksi
Awas Koreksi, IHSG Menuju 7.226





