EmitenNews.com - Pola transaksi saham produsen Jelly Inaco, Niramas Utama (JELI) bikin investor panik. Pasalnya, pada perdagangan 30 Juli 2026 lalu, muncul antrean jual jumbo yaitu 68 juta lot alias 6,8 miliar lembar. Kondisi itu, melewati total saham perseroan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) maksimum 12,66 juta lot alis 1,26 miliar helai.

”Antrean penawaran jual tersebut merupakan order yang tercantum dalam order book, dan tidak dengan sendirinya menunjukkan adanya transaksi yang telah terlaksana,” tegas Felicia Novianti Lukman, Corporate Secretary Niramas Utama.

Kemunculan antrean penawaran jual tersebut menarik perhatian pasar. Pada periode yang sama, perdagangan saham JELI mengalami peningkatan tekanan jual dan volatilitas, yang berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap perdagangan saham perseroan.

Merespons kondisi itu, JELI bertindak cekatan guna memberi informasi akurat, memadai, berimbang kepada investor, dan pemangku kepentingan. Berdasar pertemuan pada 30 Juli 2026, BEI mengklarifikasi kejadian tersebut bukan tersebab gangguan sistem, serangan siber (cyberattack), maupun gangguan teknis (glitch) pada sistem perdagangan BEI.

Berdasar penelusuran awal BEI, kejadian itu berkaitan dengan adanya indikasi ketidaksesuaian penyampaian pesanan (order) jual oleh anggota bursa (AB) yang mengakibatkan munculnya penawaran jual dalam jumlah jauh melebihi jumlah saham perseroan tercatat di BEI. Indikasi masalah pada AB saat ini masih dalam proses penelaahan oleh bursa.

JELI tetap berkomitmen pada penerapan tata kelola perusahaan secara baik (Good Corporate Governance), komunikasi transparan dengan investor, regulator, dan pemangku kepentingan. JELI terus fokus pengembangan usaha, dan peningkatan kinerja untuk menjaga fundamental bisnis di tengah dinamika ekonomi global serta menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.

”Persepsi negatif pasar memicu tekanan jual (panic selling) sehingga menyebabkan harga saham JELI bergerak tidak wajar, dan berdampak pada reputasi saham perseroan. Kondisi itu, tidak berdampak material terhadap kegiatan operasional, kondisi hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha. Operasional dan fundamental perseroan tetap terjaga,” ucap Felicia.

Usai insiden itu, sepanjang perdagangan Jumat, 31 Juli 2026, saham JELI melejit 4,13 persen alias 25 poin menjadi Rp630. Sejak listing di Bursa pada 7 Juli 2026, saham JELI terhempas 44 persen setara 495 poin dari Rp1.125 per lembar. Saham JELI dibekali kapitalisasi pasar Rp797,58 miliar. (*)