APPRI Rilis Survei PR 2026, Industri Masuk Fase Transisi Strategis
:
0
Peluncuran “Studi Tren Belanja Jasa PR dan Optimisme Terhadap Industri PR di tahun 2026” oleh APPRI bersama Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. Foto: Istimewa
EmitenNews - Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI) bersama Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya meluncurkan studi bertajuk "Tren Belanja Jasa PR dan Optimisme Industri PR 2026" untuk memotret lanskap industri komunikasi di tengah tekanan ekonomi dan ketidakpastian global, Selasa (28/4/2026).
Ketua Umum APPRI, Sari Soegondo, mengatakan riset ini disusun untuk membantu pelaku industri memahami kebutuhan komunikasi perusahaan sekaligus menjadi dasar dalam menentukan arah bisnis ke depan.
“Di tengah dinamika ekonomi global yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat, kami merasa perlu untuk membekali konsultan komunikasi dan PR dengan pemetaan kebutuhan komunikasi perusahaan,” ujarnya, dikutip Senin (4/5/2026).
Studi ini juga menjadi pijakan bagi asosiasi untuk melihat langkah strategis dalam mendukung pengembangan bisnis para anggotanya.
Riset yang mulai dilakukan sejak November 2025 ini melibatkan 24 perusahaan dari total 50 undangan, yang berasal dari 19 sektor industri utama, seperti kesehatan, perbankan, manufaktur, energi, layanan publik, sumber daya alam, hingga ritel.
Ketua Tim Riset dari Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Natalia Widiasari, menilai industri PR di Indonesia saat ini tengah berada dalam fase transisi menuju peran yang lebih strategis.
“Secara keseluruhan, studi ini menunjukkan bahwa sektor komunikasi dan PR di Indonesia sedang berada dalam fase transisi menuju peran yang lebih strategis,” jelasnya.
Menurutnya, perubahan ini dipicu sejumlah tantangan baru di era baru seperti algoritma digital, banjirnya informasi, hingga meningkatnya tuntutan terhadap pengukuran kinerja PR yang berbasis dampak.
Dari Hasil Survei, Kesadaran Pimpinan Perusahaan atau Organisasi Terhadap Pentingnya Komunikasi Masih Belum Merata
Dari hasil survei, kesadaran pimpinan perusahaan atau organisasi terhadap pentingnya komunikasi masih belum merata. Sebanyak 46 persen responden mengaku belum sepenuhnya yakin untuk meningkatkan aktivitas komunikasi karena pertimbangan alokasi biaya.
Related News
Korban Gempa NTT Terus Berjatuhan, Ketua DPR Serukan ini
Di Parlemen, Presiden Mau Izinkan Dwi Kewarganegaraan Tapi Ada Syarat
Pidato Presiden, APBN 2027 Naik Jadi Rp4.097 Triliun, Ini Kata Purbaya
Gempa NTT M 7,7 Guncang Nusa Tenggara Timur, Juga Terasa di Makassar
BMKG Cabut Peringatan Tsunami Gempa NTT
BNI Perkuat Tata Kelola SDM lewat LSP dan Sertifikasi ISO





