EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia melonjak tajam ke level tertinggi dalam tiga bulan terakhir pada Rabu, dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah setelah militer Amerika Serikat (AS) menyerang beberapa kapal tanker Iran di dekat Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama negara tersebut.

Trading Economics mencatat harga minyak mentah naik melampaui USD94 per barel, sementara minyak mentah Brent melonjak hingga di atas USD99 per barel.

Serangan AS tersebut dilakukan sebagai respons atas upaya serangan rudal terhadap kapal perang militer AS. Eskalasi ini memicu serangan balasan dari Teheran yang meluncurkan rudal balistik ke arah Yordania, serta mengeluarkan peringatan bahaya bagi kapal-kapal di Teluk Persia.

Pihak Iran mendesak seluruh awak kapal tanker di sekitar pelabuhan Kuwait dan Bahrain untuk segera meninggalkan lokasi. Di saat bersamaan, kelompok militan Houthi menyerang infrastruktur energi di Arab Saudi selatan, termasuk kilang Jazan yang berkapasitas 400.000 barel per hari.

Gangguan distribusi di Selat Hormuz memaksa kilang-kilang global berburu pasokan minyak alternatif dari Afrika, Kanada, dan Amerika Latin. Tren ini memperkuat lonjakan harga minyak di pasar global, terlebih permintaan minyak dari China tercatat terus menguat.

Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak mendekati level USD100 per barel berpotensi memberikan dampak langsung terhadap beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sebagai negara pemimpor bersih (net importer) minyak mentah, kenaikan harga pasar global ini berisiko membengkakkan alokasi subsidi energi dan kompensasi Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional.

Selain memicu kenaikan beban belanja negara, lonjakan harga energi ini juga membayangi stabilitas harga barang dan inflasi domestik di Indonesia. Peningkatan biaya logistik serta distribusi barang berpotensi menaikkan harga kebutuhan pokok masyarakat dalam waktu dekat jika ketegangan di Teluk Persia terus berlanjut.(*)