EmitenNews.com – PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (BEKS) menyampaikan bahwa untuk data laporan keuangan per 30 September 2021 Aset BEKS tumbuh sebesar Rp1,55 triliun dari posisi bulan April 2021 (saat masih BDPK) sebesar Rp5,65 triliun menjadi Rp7,21 triliun pada bulan September 2021. Pertumbuhan Aset Bank Banten ini berada pada posisi kedua dalam peer group BPD Seluruh Indonesia.

 

Perseroan telah menyelesaikan  pelaksanaan penerbitan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights  issue, melalui Penawaran Umum Terbatas VII (PUT VII) yang dilaksanakan pada 14-21 Oktober ini, bank eks Bank Pundi ini berhasil meraup pendanaan publik hingga Rp 618 miliar dari 8 miliar saham baru  yang terserap.

 

“Dana yang terhimpun pada PUT VII ini melampaui target yang diproyeksikan di dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) Bank Banten, yakni sebesar Rp 600 miliar. Perolehan dana publik pada PUT VII naik 92,8% dibanding perolehan dana pada PUT VI lalu. Ini membuktikan kenaikan pendanaan ini merupakan bentuk nyata kepercayaan investor terhadap Bank Banten untuk terus memacu kinerja perseroan agar dapat meraih laba dan memberikan dampak terhadap pembangunan ekonomi Banten,” ujar Direktur Utama Bank Banten Agus Syabarrudin.

 

Kinerja kami sampai dengan bulan September 2021 cukup menggembirakan meskipun kami masih membukukan kerugian yang disebabkan pertumbuhan maupun ekspansi baru dimulai tepatnya bulan Juni 2021, satu bulan pasca pencabutan Bank Dalam Pengawasan oleh OJK. Keterlambatan ini karena kami terus menerus melakukan pendekatan baik kepada nasabah existing maupun kepada calon nasabah dalam rangka menumbuhkan kembali kepercayaan mereka kepada Bank Banten. ” Ungkap Agus.

 

Namun demikian, meskipun kami masih mengalami kerugian, pasca kesuksesan PUT VII kami terus akan membenahi segala permasalahan warisan dari bank sebelumnya dibarengi dengan ekspansi kredit yang sehat serta perolehan dana murah dari nasabah. Adapun Rencana Penggunaan Dana hasil PUT VII ini 65% akan kami gunakan untuk ekspansi kredit dan 35% untuk penguatan struktur  keuangan/pengembangan teknologi, ujar Agus.