EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street kemarin ditutup bervariasi mayoritas melemah tipis. Itu seiring kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah berlanjut di tengah kenaikan harga minyak mentah. Juru runding Amerika Serikat (AS), dan Iran di New York tengah mempertimbangkan kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik militer.

Syaratnya, Iran membuka selat Hormuz, dan Amerika mencabut sanksi ekonomi Teheran. Harga minyak mentah jenis WTI melejit 2,7 persen menjadi USD94,61 per barel, dan Brent melesat 3 persen menjadi USD106 per barel. Imbal hasil obligasi dengan tenor 2, 10, dan 30 tahun kompak mencatat kenaikan.

Imbal hasil tenor 2 tahun menjadi 4,941 persen, tenor 10 tahun melonjak ke 5,223 persen, tertinggi sejak Juni 2007, dan tenor 30 tahun menyentuh 5,501 persen, level tertinggi sejak Juni 2004. Aksi jual investor asing berlanjut, depresiasi nilai tukar rupiah, dan koreski mayoritas indeks bursa Wall Street diprediksi menjadi sentimen negatif indeks harga saham gabungan (IHSG).

Sementara itu, lejitan harga beberapa komoditas berpeluang menjadi sentimen positif pasar. IHSG diprediksi bergerak bervariasi cenderung melemah. Sepanjang perdagangan Jumat, 25 September 2026, IHSG akan menyusuri kisaran support 6.240-6.181, dan resistance 6.360-6.415.

Menilik data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia Dharma Satya (DSNG), Triputra Agro Persada (?TAPG), Timah (?TINS), Energi Mega Persada (?ENRG), Erajaya Swasembada (?ERAA), dan AKR Corporindo (?AKRA). (*)