Awas Bahaya Penyebaran Covid-19 dari Klaster Pabrik dan Buruh
:
0
EmitenNews.com – Awas bahaya penyebaran virus corona penyebab coronavirus disease 2019 (covid-19) di klaster pabrik dan keluarga buruh. Sekurang-kurangnya puluhan ribu kasus infeksi virus yang dikabarkan berasal dari Wuhan, Hubei, China itu, melanda kalangan buruh. "Laporan yang kami terima firm puluhan orang sudah meninggal anggota dan pengurus KSPI. Itu yang tercatat, yang tidak tercatat tentu akan ditelusuri lagi," kata Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal dalam konferensi pers secara virtual, Senin (28/12/2020). Said Iqbal mengungkapkan transmisi virus corona sudah sampai ke perusahaan multinasional sektor otomotif dan elektronik serta turunannya. Juga perusahaan padat karya, seperti industri tekstil, garmen, dan sepatu. Ia mengatakan, pihaknya sedang menghimpun data dan nama perusahaan. Penyebaran virus corona terjadi karena protokol kesehatan di area pabrik terbilang longgar. Terjadi kerumuman di beberapa lokasi, seperti kantin pabrik, masjid atau musholla pabrik, dan tempat parkir. Dalam proses produksi pun jaga jarak (physical distancing) praktis diabaikan. Hanya praktik memakai masker, yang masih dilaksanakan. "Ini mencemaskan bagi kami karena protokol kesehatan di tingkat pabrik dan selepas kerja di perjalanan sampai ke rumah itu sangat longgar sekali. Ini akibat pemerintah mengumumkan pelaksanaan new normal," katanya. Karena kondisi seperti itu, menurut Said Iqbal, angka kematian dan positif covid-19 di kalangan buruh meningkat tajam. Khususnya, di daerah industri, seperti Bogor, Tangerang, Serang, Bekasi, dan Sidoarjo, Jawa Timur. ***
Related News
Cuan Melimpah dari Lahan Industri & BBM, Mana yang Bikin AKRA Kaya?
Sukses di Singapura, Kopi & Donat Laris Manis, Omzet FORE Rp1,59 T
Saham Pengendali Digadai ke Bank, Laba Emiten Haji Isam Meroket 33%
Nihil Utang Bank, Laba UNVR Naik 25% Meski Ditagih Pajak Triliunan
Untung Miliaran dari Sewa Sekolah, Ini Rahasia Diet Biaya Ekstrem MSIE
Penjualan AXIO Tembus Rp1,36 Triliun, 66 Persennya Cuma dari 2 Klien





