EmitenNews.com - Bursa saham utama Asia kompak melemah pada perdagangan Jumat (2/10), dipimpin anjloknya Indeks Hang Seng Hong Kong sebesar 2,7 persen, Nikkei 225 Jepang melorot 0,6 persen, dan KOSPI Korea Selatan terkoreksi tipis ke level 6.950. Aksi jual di kawasan regional ini dipicu oleh lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS (yield US Treasury) dan tingginya harga minyak dunia.

Pelemahan tajam bursa Asia terjadi seiring melonjaknya imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun hingga menyentuh level 5,34 persen, posisi tertinggi sejak 2002. Melesatnya yield obligasi AS tersebut dipicu oleh kekhawatiran inflasi akibat tingginya biaya energi serta besarnya investasi di sektor kecerdasan buatan (AI).

"Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, dengan imbal hasil 10 tahun mencapai 5,34%, tertinggi sejak 2002, karena kenaikan biaya energi dan investasi terkait AI yang kuat memicu inflasi dan kekhawatiran suku bunga," tulis Trading Economics dalam laporannya pada Jumat (2/10).

Koreksi paling dalam dialami Indeks Hang Seng Hong Kong yang merosot 667 poin ke level 23.943 dan mencatatkan penurunan harian terparah sejak Juli 2026. Aksi pelepasan saham melanda emiten raksasa seperti Tencent (-1,9%), AIA (-5,0%), HKEX (-2,4%), Trip.com (-3,0%), dan Xiaomi (-4,4%), diperberat oleh harga minyak Brent yang bertahan di kisaran USD102,6 per barel.

Di Korea Selatan, indeks KOSPI tertekan oleh inflasi domestik September yang bertahan di level 2,9 persen. Sementara di Jepang, indeks Nikkei 225 tergerus ke posisi 68.500 dipicu oleh inflasi inti Tokyo yang melonjak menjadi 2,7 persen dan berada di atas target Bank Sentral Jepang untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan.

Sinyal merah dari bursa Asia akibat kombinasi yield obligasi AS yang tinggi dan harga minyak di atas USD100 per barel menjadi perhatian serius bagi pelaku pasar keuangan Indonesia, khususnya terkait ancaman capital outflow dan tekanan pada nilai tukar Rupiah.(*)