“Kita punya kemampuan luar biasa untuk EBT. Contohnya, kapasitas geotermal 24 gigawatt (GW). Belum lagi, air, angin, dan matahari. Tetapi, matahari dan angin itu tidak konstan, sehingga kita perlu sumber yang stabil yaitu geotermal dan air,” ucap Erick di Gedung BEI.

 

Menurut dia, pengembangan pembangkit geotermal berada di kementerian BUMN lewat Pertamina dan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Namun, geotermal juga berada di bawah Kementerian Keuangan melalui PT Geo Dipa Energi, sehingga sebaran ini perlu dikonsolidasikan. 

 

“Sebagai tahap awal, IPO PGE dahulu, tetapi mimpi besarnya adalah mengonsolidasikan. Setelah itu, kami langsung kerja sama dengan BUMN yang membutuhkan agar kita punya produk hijau,” imbuh Erick.

 

Dia menyatakan, IPO PHE dilakukan secara bertahap.  Alasannya, nilai IPO PGE sangat besar sekali, mencapai miliaran dolar AS. “Kami ingin memastikan dana yang diambil cukup untuk investasi di sumur-sumur baru atau pengembangan sumur dengan sistem baru,” jawab dia.

 

Erick mengatakan, pihaknya juga masih terus mendorong PalmCo untuk IPO sebagai upaya membangun ketahanan energi. Sebagaimana diketahui, Indonesia sudah memiliki beragam jenis produk turunan energi, seperti B35, etanol, dan BBM yang produksinya perlu terus digenjot. “Jadi, inilah kenapa kita dorong PalmCo IPO,” ujar dia.

 

Di samping bertujuan membangun ketahanan energi, dia mengatakan, IPO sejumlah entitas anak usaha BUMN tersebut juga bertujuan untuk membangun ketahanan pangan.

 

“Kalau kita benar-benar bisa menguasai 600 ribu hektare (ha) lahan, kita bisa intervensi pasar ketika tidak seimbang. Selama ini, kita tidak bisa intervensi minyak, karena kita hanya punya 3% dari total pasar, kecil sekali. Lalu bagaimana kita mau operasi pasar?” tutup Erick.