EmitenNews.com—PT Mahkota Group Tbk (MGRO) yang bergerak di bisnis perkebunan kelapa sawit, membukukan rugi di sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini. Melansir laporan keuangan perusahaan, rugi bersih perseroan tercatat sebesar Rp48,11 miliar, berbalik dari periode yang sama tahun sebelumnya dimana perseroan mengantongi laba sebesar Rp49,50 miliar.

 

Dari sisi pendapatan, perseroan mencatatkan pertumbuhan sebesar 17,78% menjadi Rp5,61 triliun, dari sebelumnya sebesar Rp4,76 triliun. Berdasarkan segmennya, minyak sawit mentah dan turunannya mencatatkan pendapatan sebesar Rp4,90 triliun, kemudian produk inti sawit dan turunannya sebesar Rp577,16 miliar.

 

Lalu, pendapatan segmen produk sawit lainnya tercatat sebesar Rp90,09 miliar, jasa sewa tangki mencatatkan pendapatan sebesar Rp42,74 miliar dan serta jasa manajemen mencatatkan pendapatan sebesar Rp450 juta.

 

Namun, sejumlah beban perseroan ikut naik dengan beban pokok pendapatan tercatat sebesar Rp5,03 triliun, naik 20,62% dari sebelumnya sebesar Rp4,17 triliun. Kemudian, beban operasional sebesar Rp531,29 miliar dari sebelumnya Rp474,38 miliar.

 

Secara rinci, beban penjualan tercatat sebesar Rp450,61 miliar dari sebelumnya Rp411,11 miliar, serta beban umum dan administrasi sebesar Rp80,67 miliar dari sebelumnya Rp63,27 miliar.

 

Hingga akhir September 2022, total nilai aset MGRO tercatat sebesar Rp2,64 triliun, tumbuh 45,30% dari posisi akhir Desember 2021 yang sebesar Rp1,82 triliun. Adapun, liabilitas tercatat sebesar Rp2,01 triliun dan ekuitas sebesar Rp627,37 miliar.

 

Manajemen MGRO menilai bahwa, bisnis kelapa sawit terutama di pasar ekspor masih prospektif pada tahun depan, meskipun dibayangi resesi global. Permintaan akan produk turunan CPO diproyeksikan akan tetap tinggi.

 

Terlepas dari kondisi apapun, CPO dan produk turunannya tetap akan menjadi kebutuhan utama yang dibutuhkan masyarakat. Dari sisi volume bisa dipastikan dapat stabil atau meningkat, tetapi dari sisi harga belum dapat diprediksi karena dipengaruhi oleh berbagai hal, seperti logistik, kenaikan suku bunga, serta inflasi.

 

Selain itu, harga dari produk substitusi minyak kelapa sawit pun juga akan turut mempengaruhi terhadap produk kelapa sawit. Mengingat negara seperti Rusia, Eropa, dan Amerika Serikat (AS) menjadi produsen minyak nabati selain kelapa sawit.