Bebas HSC, Saham ini Menjadi Incaran Para Konglo
:
0
Sejumlah pengunjung memenuhi salah satu restoran dan cafe besutan Lucy In The Sky. FOTO - Dok LUCY
EmitenNews.com - HP Capital Resources terus memburu saham Lima Dua Lima Tiga alias Lucy in the Sky (LUCY). Itu ditunjukkan dengan menyerok 227.216.084 helai alias 227,21 juta saham perseroan. Transaksi akumulasi tersebut telah ditahbiskan pada 24 Agustus 2026.
Pembelian terjadi dengan kisaran harga Rp300 per lembar. Menyusul skema harga itu, HP Capital dipaksa merogoh kocek senilai Rp68,16 miliar. Menyusul transaksi itu, timbunan saham LUCY dalam pangkuan HP Capital makin tebal. Tepatnya, menjadi 339,91 juta lembar setara 22,44 persen.
Mengalami lonjakan sekitar 15 persen dari episode sebelum transaksi dengan tabulasi 112,7 juta eksemplar alias 7,44 persen. Sebelumnya, edisi 12-13 Agustus 2026, HP Capital sempat menguasai 20,86 persen saham LUCY sebelum melepas sebagian. HP Capital melakukan 2 kali pembelian skala jumbo pada 12 Agustus 2026.
Transaksi pertama meneyrok 14,34 juta lembar atau 0,95 persen, lalu mengoleksi 157,97 juta saham atau setara 10,43 perssen porsi modal disetor saham LUCY. Akumulasi berlanjut pada 13 Agustus 2026 dengan menyerok 143,63 juta helai setara 9,48 persen. So, porsi HP Capital menjadi 315,94 juta saham atau selevel 20,86 persen.
Namun, saat bersamaan tepat pada 13 Agustus 2026, HP Capital terpantau melepas 87,97 juta saham atau setara 5,81 persen. Alhasil, kepemilikan turun menjadi 227,97 juta saham atau 15,05 persen. Selain HP Capital, Happy Hapsoro tercatat melalui Sentosa Bersama Mitra, resmi menjadi pemegang saham LUCY. Hapsoro mengempit 75 juta lembar atau setara dengan porsi kepemilikan 4,95 persen.
Namun, pengendali LUCY tetap Delta Wibawa Bersama dengan porsi 34,42 persen, dan Dimas Wibowo selaku pemilik manfaat akhir atau Ultimate Beneficiary Owner (UBO) dengan 25,32 persen porsi kepemilikan saham LUCY.
Bebas Jeratan HSC
Tepat pada 29 Juni 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) membebaskan LUCY dari status kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi alias High-Shareholding Concentration (HSC). Pencabutan itu, dilakukan BEI dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) setelah mengevaluasi struktur kepemilikan saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat.
Selain itu, BEI mencabut status HSC setelah pengendali perusahaan, PT Delta Wibawa Bersama, melepas 378,6 juta sahamnya ke publik pada awal Juni 2026. Ya, sebelumnya pada 2 April 2026, BEI memasukkan LUCY dalam barisan saham HSC dengan tingkat 95 persen terkonsentrasi pada investor tertentu.
Penetapan HSC itu, berdasar metodologi penentuan atas struktur kepemilikan saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat per tanggal 31 Maret 2026. Di mana, berdasar metode tersebut, efek LUCY dimiliki sejumlah tertentu pemegang saham yang secara agregat menguasai 95,47 persen dari total Saham dalam bentuk warkat, dan tanpa warkat LUCY.
Related News
Penjualan Ekspor Melonjak 53%, Laba Bersih CBUT Melesat 302% Per Juni
Baru Dibuka Lagi, Saham Ngegas Ini Disambut Penurunan Tajam hingga ARB
Intip Tokoh Besar di 18 Emiten Kena SP1 yang Resmi akan Didepak BEI
6 Saham Terindikasi UMA BEI: 3 Terhuyung, 3 Lain Masih Ngotot Naik!
Perkuat Keberlanjutan, AVIA Sodorkan Sustainability Strategy
TMPO dan 2 Saham ARA Beruntun Ini Kompak Disegel BEI





