EmitenNews.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) memberi bantahan atas sentimen negatif penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga 1,51% ke 6.147,86 bertepatan pembukaan batas Rp50 pada Senin (28/9/2026) kemarin.

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik dalam update keterangannya kepada wartawan pada Selasa (29/9/2026), BEI menerangkan bobot saham gocap tidak berkontribusi signifikan terhadap pergerakan IHSG kemarin.

Ia memaparkan terdapat 26 saham dengan harga Rp50 dengan total bobot pada IHSG sebesar 1,91% per 25 September 2026.

Saham tersebut mengalami penurunan antara 8% - 14% pada 28 September 2026 yang berkontribusi terhadap penurunan sekitar -0,27% atau -16,707 poin.

Selain itu, terdapat 34 dari 164 saham dengan harga Rp50 - Rp100 pada tanggal 25 September 2026, yang mengalami penurunan harga menjadi di bawah Rp50.

Saham Rp50 Mencari Harga Keseimbangan Baru

Jeffrey Hendrik sebelumnya dalam pernyataannya Senin (28/9/2026) menjelaskan, pergerakan di bawah Rp50 merupakan proses pencarian fair value.

"Harusnya tidak demikian (jadi sentimen negatif). Bobot dari saham-saham yang sudah lama di harga Rp 50 itu bobotnya terhadap IHSG juga tidak besar. Jadi tidak semata-mata karena faktor penurunan di bawah harga Rp 50 yang memberikan pressure kepada IHSG," ujar Jeffrey.

Menurut Jeffrey, ada saham yang sudah bertahun-tahun di harga Rp50 tanpa transaksi, sehingga wajar jika kini mencari harga wajarnya melalui mekanisme auto rejection bawah (ARB) bertahap.

Ia menambahkan, tercatat 69 saham diperdagangkan di bawah Rp50 di pasar reguler termasuk dari Papan Pemantauan Khusus, sementara yang murni di harga Rp50 di papan reguler ada sekitar 20-an saham.