EmitenNews.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan jumlah pengguna layanan bursa karbon tahun ini mencapai 96 peserta pada tahun 2024. 

Dengan begitu, BEI berarti menargetkan peningkatan dua kali lipat dari jumlah pengguna saat ini. 


Menurut Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik, hingga bulan Januari 2024, jumlah pengguna layanan bursa karbon mencapai 46 peserta. Dari jumlah tersebut, perusahaan yang terdaftar dan anak perusahaannya mendominasi sektor dengan 26%. 

Sementara itu, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan anak perusahaan non-listed mencakup 15%, anggota bursa 9%, dan kelompok lainnya sebanyak 50%.


Jeffrey Hendrik berharap bahwa emiten dapat segera menyusun rencana terkait Net Zero Emission (NZE). Menurutnya, investor asing kini tidak hanya mempertimbangkan kinerja keuangan dalam keputusan investasi mereka, tetapi juga faktor-faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan (ESG). 

“Itu yang akan kami ajak diskusi untuk berpartisipasi, memanfaatkan keberadaan bursa karbon ini untuk mendukung strategi mereka ke arah net zero. Nah tentu kami harapkan setiap perusahaan tercatat, emiten juga mulai menyusun roadmap,” kata dia saat ditemui di Bursa Efek Indonesia, Senin (19/2/2024).


Sebelumnya, BEI menargetkan jumlah pengguna layanan bursa karbon bisa melebihi 100 pada tahun 2024, dua kali lipat dari capaian tahun 2023. 

Jeffrey Hendrik menyebut bahwa target ini dapat tercapai jika integrasi sistem Apple Gatrik dengan sistem registrasi nasional pengendalian perubahan iklim (SRN-PPI) sudah terlaksana. 


Dia berharap bahwa sinkronisasi kedua layanan tersebut dapat meningkatkan pasokan di SRN-PPI, yang pada gilirannya akan meningkatkan permintaan di bursa karbon.