BEI Waspada! Indonesia Terancam Turun Kelas Jadi Frontier Market
:
0
Jajaran petinggi Bursa Efek Indonesia (BEI) saat temu wartawan di Gedung BEI pada Rabu (28/1). Foto: EmitenNews/Aji.
EmitenNews.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan bahwa pasar modal Indonesia menghadapi risiko penurunan status dari Emerging Market menjadi Frontier Market apabila kebutuhan transparansi data kepemilikan saham yang diminta Morgan Stanley Capital International (MSCI) tidak dapat dipenuhi hingga Mei 2026.
Direktur Utama BEI Iman Rachman dalam paparannya bersama wartawan pada Rabu (28/1) mengatakan MSCI telah melakukan konsultasi sejak akhir 2025 dan pada akhirnya memutuskan untuk membekukan sejumlah perubahan dalam proses peninjauan indeks, termasuk rebalancing Februari 2026.
“Kami Bursa, OJK, dan KSEI itu memang secara langsung berdiskusi dengan MSCI. Jadi kami berdiskusi dengan MSCI untuk menyampaikan sebelumnya di awal bahwa keberatan kami yang pertama adalah bahwa pengenaan proposal mereka itu tidak berlaku di bursa yang lain. Jadi kita minta equal treatment,” kata Iman dalam konferensi pers direksi, Rabu (28/1).
Iman menjelaskan, MSCI menilai data yang diajukan otoritas pasar Indonesia belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan metodologi, khususnya terkait transparansi kepemilikan saham di bawah 5 persen yang bersumber dari KSEI.
“Yang jadi concern adalah kalau data yang mereka minta, artinya data yang kami usulkan mereka merasa tidak cukup,” ujarnya.
Rebalancing Dibekukan, Bobot Indonesia Masih Bertahan
Dalam pengumuman resminya, MSCI memutuskan untuk membekukan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF), Number of Shares (NOS), penambahan konstituen baru, serta perpindahan saham antar segmen ukuran, termasuk dari small cap ke standard. Dengan kebijakan tersebut, komposisi saham Indonesia di indeks MSCI dipastikan tidak berubah pada rebalancing Februari 2026.
“Untuk di bulan Februari rebalancing-nya di-freeze. Jadi tidak ada penambahan atau pengurangan konstituen perusahaan tercatat kita di MSCI,” ujar Iman.
Ia menambahkan, dengan kebijakan pembekuan tersebut, bobot Indonesia di MSCI untuk sementara masih bertahan.
“Dari mulai Februari sampai dengan Mei tidak ada pergerakan. Market share kita yang saat ini 1,5 persen di MSCI akan stay di 1,5 persen,” kata Iman.
Related News
Damai AS-Iran, Rupiah Lanjutkan Tren Penguatan Senin Sore
Menukik Tajam, BEI Cap UMA Saham FLMC
Melejit 169,29 Persen, BEI Suspensi Saham FORU
IUP Tak Cukup, ESDM Perketat Syarat Kegiatan Pertambangan
88 Emiten Telat Lapkeu 2025, BEI Tegas Kasih SP3 dan Denda Rp150 Juta
Pegadaian-KSEI Buka Jalur Baru Investasi Emas Nasional via Bursa ETF





