Besi dan Baja Impor Banjiri Pasar Indonesia, IISIA Ungkap Penyebabnya
Ilustrasi ada beberapa faktor yang membuat lonjakan arus masuknya besi dan baja impor ke Indonesia semakin besar belakangan ini. Dok.. IISIA.
EmitenNews.com - Besi dan baja impor membanjiri pasar Indonesia. Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara mengatakan ada beberapa faktor yang membuat lonjakan arus masuknya besi dan baja impor ke Indonesia semakin besar belakangan ini.
Dalam keterangannya kepada pers, seperti dikutip Kamis (5/2/2026), Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara mengatakan ada beberapa faktor yang membuat hal tersebut terjadi.
IISIA mencatat kondisi tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh mekanisme pasar bebas, melainkan merupakan kombinasi antara tekanan pasar global dan adanya ruang regulasi yang dapat dimanfaatkan.
Salah satu produk yang menjadi perhatian adalah hot rolled coil (HRC). Dalam beberapa tahun terakhir, porsi impor HRC dari China terus meningkat hingga mencapai sekitar sepertiga dari total impor pada 2024. Harga yang ditawarkan pun berada di level paling rendah dibanding negara pemasok lain.
Menurut Harry, impor dari China terus meningkat. Pada tahun 2024 telah mencapai sekitar 32 persen dari total impor HRC. China juga mencatat harga impor terendah, dengan tren penurunan signifikan, dari sekitar USD858 per ton pada 2022 menjadi sekitar USD549 per ton hingga YTD Triwulan III 2025.
Dalam beberapa tahun terakhir, tren penurunan harga ini berlangsung cukup tajam. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh melemahnya permintaan domestik di Tiongkok, khususnya dari sektor properti, serta pembatasan akses pasar di sejumlah negara tujuan ekspor lainnya.
Di luar faktor harga, industri juga menyoroti potensi pemanfaatan klasifikasi produk dalam sistem harmonized system (HS). Sejumlah produk baja paduan dilaporkan masuk menggunakan kode tertentu, padahal secara penggunaan mendekati baja karbon biasa.
Dalam catatan IISIA perbedaan klasifikasi ini berdampak pada struktur tarif dan bea masuk, sehingga produk bisa masuk dengan biaya lebih rendah. Dalam praktiknya, hal tersebut menciptakan ruang kompetisi yang tidak sepenuhnya setara bagi produsen dalam negeri.
Harry menyebutkan terdapat indikasi pemanfaatan celah regulasi, antara lain melalui penggunaan HS 7225 atau baja paduan, termasuk boron, yang pada praktiknya digunakan sebagai baja karbon. Akibatnya, produk yang pada dasarnya setara dengan HS 7208 atau baja karbon dapat diklasifikasikan sebagai baja paduan untuk menghindari pengenaan bea masuk tertentu.
Satu hal, pengawasan menjadi tantangan di sektor produk turunan seperti fabrikasi logam dan prefab. Sebagian produk berada di luar cakupan standar wajib atau memiliki struktur tarif berbeda, sehingga lebih mudah masuk dengan harga agresif.
"Untuk HS 73 dan HS 94, termasuk produk fabrikasi dan prefab, masih terdapat tantangan pengawasan, karena sebagian produk berada di luar cakupan SNI Wajib atau memiliki struktur tarif yang berbeda, sehingga dapat masuk dengan harga yang sangat kompetitif," kata Harry.
Arus impor besi dan baja ke Indonesia menunjukkan tren peningkatan dalam setahun terakhir. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat volume impor untuk kelompok HS 72 atau besi dan baja pada Triwulan III 2025 sekitar 10,2 juta ton. Terjadi kenaikan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di kisaran 9,8 juta ton.
Memang, kenaikan tersebut tidak terlihat drastis, namun tetap memberi sinyal bahwa pasar domestik masih menjadi tujuan utama produk baja dari luar negeri. Pertumbuhan sekitar 4% secara tahunan dinilai cukup signifikan mengingat kapasitas produksi dalam negeri juga terus bertambah.
Harga menjadi faktor utama pergeseran preferensi pasar. Produk baja dari China kerap dibanderol lebih murah dibandingkan produk lokal, sehingga menarik minat pelaku industri hilir yang berorientasi pada efisiensi biaya produksi.
"Secara umum, daya saing harga menjadi faktor utama pendorong masuknya produk impor, khususnya baja, karena produk dari China masuk dengan harga yang relatif lebih murah dibandingkan produk domestik," urai Harry Warganegara. ***
Related News
Moody’s Ubah Outlook Indonesia dari Stabil ke Negatif, Ini Komentar BI
Enam Proyek Hilirisasi Serentak Masuki Tahap Groundbreaking Jumat Ini
Kemendag Tegaskan Bisnis MLM Dilarang Lewat e-Commerce, Cek Aturannya
Jaga Kinerja Saham, CDIA Siapkan Rp1 Triliun untuk Buyback Tiga Bulan
Pemerintah Hadapi Banyak Dinamika dan Tantangan Perdagangan Global
Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp17.000 Per Gram





