EmitenNews.com - PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK) membukukan penurunan pendapatan 88,6% pada 2025. Emiten yang fokus di industri pengolahan kakao lewat anak usaha PT Golden Harvest Cocoa Indonesia (GHCI) itu mencatat pendapatan Rp72,02 miliar, anjlok dari Rp635,63 miliar pada 2024.

Dhanny Cahyadi, Direktur Utama BTEK dalam rilisnya Senin (15/6/2026) menyebut koreksi tajam dipicu melemahnya aktivitas operasional dan penyesuaian strategi bisnis yang menekan volume penjualan.

“Manajemen terus mengevaluasi strategi operasional dan komersial untuk mendukung perbaikan pendapatan pada periode mendatang,” tulis rilis resmi BTEK.

Total aset BTEK per 31 Desember 2025 juga terpantau turun menjadi Rp3,51 triliun dari Rp3,89 triliun pada 2024. Aset lancar menyusut menjadi Rp48,12 miliar dari Rp163,88 miliar, dipengaruhi penyesuaian nilai goodwill dan aset tidak lancar lain. Aset tetap justru naik dari Rp1,92 triliun menjadi Rp1,97 triliun karena realisasi belanja modal (capex).

Dari sisi liabilitas, total kewajiban BTEK turun tipis ke Rp3,23 triliun dari Rp3,43 triliun. Liabilitas jangka pendek susut menjadi Rp7,75 miliar dari Rp69,97 miliar seiring penyelesaian utang usaha, uang muka pelanggan, dan beban akrual. Liabilitas jangka panjang turun ke Rp3,22 triliun dari Rp3,36 triliun karena pembayaran pinjaman terjadwal, penyelesaian saldo pihak berelasi, dan penurunan liabilitas pajak tangguhan.

Memasuki 2026, BTEK membidik pemulihan lewat pasar kakao premium. Perseroan menilai industri kakao mulai ekspansi seiring membaiknya pasokan global, naiknya permintaan produk bernilai tambah, serta dorongan pemerintah untuk revitalisasi sektor kakao.

Strategi BTEK akan fokus pada optimalisasi kapasitas produksi GHCI dan perluasan ekspor segmen kakao premium. Adapun, BTEK juga tengah mempersiapkan agenda korporasi besar yakni Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang segera dilaksanakan pada Kamis, 18 Juni 2026.