EmitenNews.com - Harga emas dunia diperdagangkan tertahan di dekat level USD4.300 per ons pada Jumat (11/9/2026). Pergerakan ini melanjutkan tren pelemahan setelah harga emas anjlok hampir 2 persen pada sesi perdagangan sebelumnya.

Para investor bersiap menghadapi rilis laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang berpotensi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed) pada pekan depan.

Menurut Trading Economics, kenaikan ekspektasi suku bunga tersebut didorong oleh rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) AS pada Kamis, yang menunjukkan lonjakan harga produsen periode Agustus akibat Perang Iran yang mengerek biaya energi grosir.

Pasar saat ini memperhitung peluang sebesar 71 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan pekan depan. Probabilitas ini meningkat signifikan dari estimasi 61 persen sebelum data PPI dirilis.

Selain spekulasi suku bunga, harga emas menghadapi tekanan dari lonjakan harga minyak mentah akibat eskalasi konflik AS-Iran yang memicu kekhawatiran inflasi global. Di saat bersamaan, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS melonjak setelah realisasi pembagian kembali utang (buyback) oleh Departemen Keuangan AS berada di bawah ekspektasi pasar.

Kenaikan yield obligasi memperberat posisi emas yang merupakan aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset). Secara keseluruhan, harga emas diperkirakan kehilangan nilai lebih dari 2 persen sepanjang pekan ini, sekaligus mencatatkan penurunan mingguan selama tiga pekan berturut-turut.

Pelemahan harga emas global hingga mendekati USD4.300 per ons ini memberikan dampak langsung bagi pasar komoditas domestik Indonesia. Penurunan harga acuan dunia berpotensi menahan laju kenaikan harga emas batangan Antam serta mengubah arah lindung nilai (hedging) investor lokal di tengah gejolak inflasi global.(*)