EmitenNews.com - PT ITSEC Asia Tbk (CYBR) menilai permintaan keamanan siber diperkirakan meningkat signifikan, seiring tingginya risiko yang juga melonjak.

President Director ITSEC Asia, Patrick Dannacher mengungkapkan bahwa saat ini pengguna Aritificial Intelligence (AI) tidak hanya digunakan untuk tujuan baik, bahkan justru digunakan pula pihak dengan niat jahat.

“Kini kita memasuki situasi di mana serangan otomatis, pemindaian kerentanan secara otomatis, dan segala bentuk otomatisasi di sisi kejahatan sedang terjadi. Hal ini menuntut pihak yang berada di sisi baik, yakni klien kita maupun calon klien kita untuk merespons situasi tersebut,” katanya kala AICX Press Conference di Jakarta, Jumat (9/10).

Karena itu, lanjut Patrick, cara-cara tradisional tidak lagi relevan untuk menangkal serangan yang juga berbasis AI. Sehingga, penerapan teknologi kemanan siber yang memadukan AI diperlukan untuk memitigasi risiko tersebut.

Patrick juga mengatakan bahwa proyeksi pertumbuhan bisnis keamanan siber atau cybersecurity juga diperkirakan akan terus tumbuh, sejalan dengan penggunaan AI yang kian masif.

“Proyeksi pertumbuhan menunjukkan bahwa AI tanpa keamanan siber bukanlah solusi yang tepat, begitu pula sebaliknya, keamanan siber tanpa AI juga tidak memadai. Oleh karena itu, kami harus mengintegrasikan AI ke dalam perangkat, layanan, dan solusi yang kami berikan kepada klien,” katanya.

Praktik Kejahatan Mulai Beralih

Sebagai contoh, Patrick memberikan contoh bahwa perampok bank kini tidak lagi datang membawa senjata api,  masuk ke bank dan membongkar brankas, namun telah berkembang menjadi serangan digital.

Di sisi lain, bank menjadi salah satu lembaga yang rentan terkena serang siber sebab terdapat banyaknya nasabah, berbagai kantor cabang, hingga sistem perbankan yang kompleks.

“Oleh karena itu, menciptakan lingkungan yang aman bagi bank merupakan tantangan tersendiri. Hal yang sama berlaku untuk perusahaan telekomunikasi maupun industri lainnya,” lanjut Patrick.