Defisit Neraca Dagang Berulang, Ekonom UI Warning Rupiah-Inflasi
:
0
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) sekaligus Ekonom Indef, Berly Martawardaya. (Foto: Republika Online)
EmitenNews.com - Neraca perdagangan kuartalan Indonesia kembali mencatatkan defisit pada kuartal II 2026. Capaian ini mengakhiri tren positif yang sempat bertahan selama 25 kuartal atau lebih dari lima tahun terakhir.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) sekaligus Ekonom Indef, Berly Martawardaya, menilai situasi saat ini mengulang kondisi lima tahun lalu. Konflik geopolitik di kawasan Teluk Hormuz menjadi faktor utama yang memicu lonjakan harga minyak dan gas (migas) dunia.
"2019 is calling, defisit perdagangan kuartalan is back! Setelah 25 kuartal (alias 5 tahun plus 1 kuartal) berlalu, maka neraca perdagangan kuartalan kembali defisit," ujar Berly di akun X-nya.
Ia menjelaskan bahwa pemicu utama dari defisit ini adalah kenaikan harga migas akibat konflik di Teluk Hormuz. Kondisi tersebut sekaligus menurunkan kinerja ekonomi di sejumlah negara mitra dagang utama Indonesia.
Dampak dari pelemahan neraca perdagangan ini berpotensi memberikan tekanan langsung terhadap mata uang Rupiah. Untuk menahan pelemahan nilai tukar serta mencegah lonjakan imported inflation, Indonesia membutuhkan arus modal masuk (capital inflow).
Berly juga menekankan pentingnya langkah cepat pemerintah dalam mendiversifikasi produk dan memperluas pasar ekspor, khususnya dengan menarik investasi berorientasi ekspor (export-oriented investment).
Jika tekanan ini terus berlanjut, defisit perdagangan pada kuartal III 2026 diperkirakan dapat melampaui posisi kuartal III dan IV tahun 2019. Kondisi tersebut berisiko memicu kenaikan inflasi domestik serta menyulitkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia untuk menembus angka di atas 5%.
Sebelumnya Bank Indonesia (BI) melaporkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal II 2026 mencatatkan defisit sebesar USD0,9 miliar, menyusut dari defisit kuartal I 2026 yang mencapai USD9,1 miliar. Namun, defisit transaksi berjalan melebar menjadi USD12,5 miliar atau sekitar 3,3% dari PDB, dipengaruhi oleh pembengkakan defisit perdagangan migas akibat tingginya harga minyak dunia.
"Kinerja NPI pada kuartal II 2026 tetap terjaga di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan resminya pada Jumat (21/8/2026).
BI mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 berada di level USD145,6 miliar, setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor. BI optimistis prospek NPI ke depan tetap terjaga didukung oleh surplus transaksi modal dan finansial yang mencapai USD12,0 miliar.(*)
Related News
Harga Emas Dunia Melonjak 14% Dalam Tiga Minggu, Ini Pemicunya
Kuota KUR Bank Sumut jadi Rp2 Triliun, Begini Harapan Menteri UMKM
Pabrik Baterai EV di Karawang Sudah Rampung, Tampung 3 Ribu Pekerja
Penuhi Pesanan UGL Australia, INKA Kirim 120 Gerbong ke Selandia Baru
RUPSLB Angkat Ignatius Girendroheru Dirut PEFINDO, Gantikan Irmawati
KAI Bangun Hunian TOD Manggarai, BTN Siapkan KPR 40 Tahun Bunga 6%





