EmitenNews.com - Cuaca ekstrem berupa kekeringan akibat El Nino, penurunan permukaan sungai, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melumpuhkan sebagian operasi penambangan batubara di Indonesia. Kondisi ini berpotensi mengancam aktivitas ekspor batubara nasional hingga akhir tahun.

Berdasarkan laporan Buletin OPIS Dow Jones, Kamis (15/10), gangguan operasional meluas di pusat produksi utama Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, serta wilayah Sumatra meliputi Riau, Jambi, dan Sumatra Selatan.

Di Kalimantan Selatan, jarak pandang yang amat terbatas akibat kabut asap karhutla memaksa sejumlah produsen menghentikan sementara aktivitas operasional pertambangan di lapangan.

"Kami memperkirakan ini akan mengurangi kapasitas kami sekitar 10%," kata seorang penambang batubara berkadar rendah di Kalimantan Selatan seperti dikutip OPIS.

Selain kabut asap, penipisan air sungai utama seperti hulu Sungai Barito, Kapuas, dan Mahakam membuat jaringan pengangkutan tongkang batubara hampir lumpuh total. Dangkalnya air sungai memicu kemacetan kapal dan mengancam pasokan ke terminal ekspor pesisir.

"Kedalaman perairan yang sangat dangkal di sepanjang hulu Sungai Barito dan Kapuas telah menyulitkan navigasi tongkang dengan aman," kata Analis Perkapalan Senior Indonesia Mukhlisin Azin.

Seorang agen pengiriman mengungkapkan bahwa penurunan permukaan sungai tahun ini jauh lebih parah dibandingkan periode September hingga November tahun lalu. Kondisi ini menyulitkan para penambang untuk memuat kargo ekspor untuk jadwal November.

"Tantangannya terletak pada pasokan tongkang karena banyak yang terjebak di hulu," kata sumber perkapalan lainnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kekeringan ekstrem akibat El Nino berlanjut hingga akhir tahun. Curah hujan di wilayah pertambangan utama Kalimantan diproyeksikan tetap di bawah 50 mm per 10 hari hingga pertengahan November, berada jauh di bawah norma musiman.(*)