Geliat Djarum, Huawei, hingga Jampidsus di Saham Nyangkut Milik Bakrie
:
0
Pemegang lisensi merek Esia, PT Bakrie Telecom Tbk. (BTEL). Foto: Bakrie Telecom.
EmitenNews.com - Drama restrukturisasi PT Bakrie Telecom Tbk. (BTEL) akhirnya kedatangan pemegang saham baru dari grup Djarum. Saham yang sudah bertahun-tahun mangkrak tersuspensi ini mulai "dicairkan" lewat konversi Obligasi Wajib Konversi secara serentak pada 20 Agustus 2026.
Berdasarkan data pemegang saham di atas 5% yang diterbitkan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) grup Djarum melenggang masuk dengan menyerap konversi 4.846.785.385 saham atau 10,86%. Sebelumnya Protelindo tidak tercatat sebagai pemegang saham BTEL.
Bersamaan dengan itu, 4 pemegang obligasi lama juga terpantau ikut mengkonversi. Akibatnya terjadi dilusi besar, PT Huawei Tech Investment kini memegang 6.189.313.980 saham atau 13,86%, turun 2,29%. PT Mahindo Agung Sentosa memegang 5.000.439.000 saham atau 11,20%, turun 1,85%. PT Biofuel Indo Sumatra memegang 3.145.050.000 saham atau 7,04%, turun 1,17%. PT Bakrie Global Ventura memegang 2.639.582.576 saham atau 5,91%, turun 0,98%.
Total porsi 4 entitas itu tergerus 6,29% dan dialihkan ke saham baru Protelindo.
Manajemen BTEL dalam keterbukaan informasi yang terbit Senin (24/8/2026) menyebut tujuan transaksi ini adalah "Penerimaan hasil konversi kepemilikan Obligasi Wajib Konversi dengan kepemilikan saham langsung."
Dana Negara Ikut Tersandera
Masalah BTEL tidak sesederhana restrukturisasi utang. Kondisi makin rumit karena ada "dana negara" yang ikut nyangkut tanpa kejelasan exit strategy (delisting dan buyback) dalam kurun 7 tahun terakhir.
Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Republik Indonesia (Jampidsus) tercatat menguasai 3,36% saham atau 1,23 miliar lembar. Saham itu berasal dari rampasan/sitaan aset hukum perkara BTEL.
Lalu, di sisi lain, perusahaan asuransi pelat merah PT Asuransi Jiwa IFG (IFG Life) masih menggenggam 3,15%.
Adapun, saham BTEL saat ini masih berada di level Rp50 dengan status suspended sejak 27 Mei 2019 alias 7 tahun lamanya.
Related News
Zankore by Indosat, Potensi Sumber Cuan Baru Bagi ISAT
Adhi Karya (ADHI) Beber Fakta Penghentian Sementara Perdagangan Saham
Karier Hera Handayani di Elnusa Sebelum Mundur dari Direktur SDM
Avian Brands Peringkat #1 Sustainalytics ESG Risk Rating
Intip Kinerja Elnusa (ELSA) di Semester I 2026, Positif?
SWAP UGM Beber Risiko dan Proyeksi Usaha Ke Depan, Bagaimana?





