EmitenNews.com - Entitas Indofood (INDF) menjadi salah satu pihak yang dipanggil dan bertemu otoritas Singapura. Itu berkenan dengan rencana Singapura mengamandemen transboundary haze pollution act. Tindakan Singapura itu, sebagai tindak lanjut kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan.

Anak usaha INDF yang menghadiri pertemuan dengan otoritas Singapura tersebut yaitu Indofood Agri Resources Ltd. Di mana, sampai saat ini, proses masih berjalan, dan masih menunggu arahan lebih lanjut dari otoritas Singapura.

Indofood Agri akan bekerja sama dengan otoritas Singapura dengan tetap memperhatikan, dan mematuhi peraturan perundangan yang berlaku di Singapura maupun Indonesia. Itu mengingat usaha perkebunan dilakukan anak usaha Indofood Agri yaitu Salim Ivomas (SIMP) berdasar hukum Indonesia.

Mengenai Karhutla, entitas INDF yaitu Salim Ivomas secara consisten menerapkan kebijakan larangan pembakaran secara ketat. SIMP setiap saat melakukan pemantauan titik-titik api di area lahan perkebunan, dan sekitarnya sehingga bisa mengidentifikasi keberadaan titik-titik api.

Selain itu, SIMP senantiasa memastikan langkah-langkah pencegahan, dan penanggulangan kebakaran sesuai prosedur berlaku termasuk kelangkapan infrastruktur sarana, dan prasarana. Itu dengan melengkapi area perkebbunan dengan kendaraan, dan peralatan pemadam kebakaran.

Kinerja Cemerlang

INDF, dan Indofood CBP (ICBP) kompak membukukan peningkatan penjualan pada kuartal III 2026. Masing-masing mencatatkan kenaikan penjualan neto konsolidasi 12 persen, dan 15 persen. INDF membukukan kenaikan penjualan neto konsolidasi 12persen menjadi Rp101,49 triliun dibanding periode sama tahun lalu Rp90,98 triliun.

Laba usaha juga tercatat naik 15 persen menjadi Rp20,80 triliun dari Rp18,10 triliun, dan marjin laba usaha meningkat 20,5 persen dari 19,9 persen periode sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, laba periode berjalan dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk relatif stabil di posisi Rp7,8 triliun. Namun, terjadi penurunan dari Rp7,88 triliun di periode sama tahun lalu menjadi Rp7,86 triliun. Meski begitu, ada peningkatan rugi selisih kurs belum terealisasi dari kegiatan pendanaan, terutama obligasi mata uang dolar AS diterbitkan ICBP, seiring melemahnya nilai tukar rupiah.

“Core profit yang mencerminkan kinerja operasional perseroan naik 11 persen menjadi Rp9,37 triliun dari Rp8,42 triliun. Didukung model bisnis terintegrasi secara vertikal, INDF mencatat kinerja solid. Kami tetap fokus mendorong pertumbuhan berkelanjutan, menjaga keseimbangan antara pangsa pasar dan tingkat profitabilitas, serta mempertahankan posisi neraca sehat,” tegas ,” tegas Direktur Utama INDF, Anthoni Salim.