EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia melonjak mendekati USD 80 per barel pada Rabu setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan meluncurkan serangan militer tambahan terhadap Iran.

Ketegangan yang kembali meningkat antara Washington dan Teheran memicu kekhawatiran gangguan pasokan global. Kenaikan harga pada hari Rabu ini menandai tren penguatan yang terjadi selama tiga sesi berturut-turut di pasar komoditas energi.

Ancaman serangan militer susulan tersebut dikeluarkan Trump setelah pemerintah Amerika Serikat memberlakukan kembali blokade di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak paling krusial di dunia. Tidak hanya itu, Trump juga memberikan peringatan keras mengenai eskalasi operasi militer AS jika Teheran menolak berunding.

"Operasi militer akan berlanjut. AS dapat menargetkan pembangkit listrik dan jembatan Iran minggu depan kecuali Teheran kembali ke meja perundingan," ujar Presiden Donald Trump.

Di sisi lain, Trump memutuskan untuk membatalkan rencana awal mengenai pengenaan biaya sebesar 20% pada kargo yang melintasi Selat Hormuz. Ia menyatakan bahwa potensi pendapatan yang hilang dari pembatalan biaya kargo tersebut akan tertutupi oleh masuknya modal baru ke negara paman sam.

"Pendapatan yang hilang akan lebih dari cukup dikompensasi oleh investasi masa depan dari negara-negara Teluk ke AS," tambah Trump.

Eskalasi geopolitik ini menambah ketidakpastian baru di pasar minyak mentah global. Padahal sebelumnya, tekanan pasokan sempat mereda dan berada dalam tren positif setelah produsen di kawasan Teluk Persia sepakat meningkatkan volume ekspor mereka. Peningkatan ekspor tersebut merupakan tindak lanjut dari penandatanganan perjanjian perdamaian sementara yang sempat meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Bagi pasar saham dan pelaku bisnis di Indonesia, lonjakan harga minyak mentah global ke level psikologis baru ini berpotensi memengaruhi pergerakan saham emiten sektor energi serta memicu volatilitas nilai tukar rupiah akibat proyeksi kenaikan beban impor migas..(*)