EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia kembali merangkak naik pada perdagangan Kamis (22/10/2026), memulihkan penurunan dari sesi perdagangan sebelumnya. Menurut data Trading Economics, harga minyak mentah mendekati level USD98 per barel, sedangkan harga minyak mentah Brent mendekati USD110 per barel.

Kenaikan harga energi tersebut dipicu oleh serangan pesawat tak berawak yang menghantam ladang minyak Shaybah milik Saudi Aramco dan mengakibatkan dua orang tewas. Insiden mematikan ini langsung memperkeruh situasi geopolitik di Timur Tengah sekaligus memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.

Sebagai respons atas meningkatnya risiko keamanan, pemerintah Amerika Serikat telah mengeluarkan perintah agar sebagian personel serta anggota keluarga mereka segera meninggalkan kedutaan besar AS di Arab Saudi. Di sisi lain, eskalasi konflik juga terjadi di Eropa Timur setelah Ukraina melancarkan serangan pesawat tak berawak skala besar terhadap infrastruktur minyak penting di Rusia pekan ini.

Kendati ketegangan geopolitik meningkat tajam, laju kenaikan harga minyak masih tertahan oleh pemulihan volume pengiriman minyak mentah dari kawasan Timur Tengah yang mendekati level sebelum perang. Tercatat ekspor minyak mentah Arab Saudi mengalami peningkatan sebesar 7,9 persen pada bulan Agustus hingga mencapai titik tertinggi sejak Maret lalu, sementara Rusia dijadwalkan mengirimkan pasokan diesel perdana ke AS.

Bagi Indonesia sebagai negara importir netto energi, fluktuasi harga minyak mentah yang bertahan di kisaran USD98 hingga USD110 per barel memberikan tekanan tersendiri terhadap postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Lonjakan harga komoditas minyak global ini berpotensi mengerek naik beban subsidi energi domestik serta mempengaruhi penyesuaian harga bahan bakar minyak di dalam negeri.(*)