Hilirisasi Bawa Ekspor Nikel Tahun 2022 Naik 10 Kali Lipat dari 2017
:
0
Pada 2017 ekspor produk turunan nikel hanya sebesar USD3,3 miliar, di 2022 meningkat 10 kali lipat hingga USD33,8 miliar.
EmitenNews.com - Dalam pidato kuncinya pada Indonesia-Australia Business Summit (IABS) 2024 yang digelar di Melbourne, Australia Senin (13/5/2024) Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menekankan komitmen Indonesia mendorong hilirisasi.
Bahlil menyampaikan bahwa hubungan diplomatik antara Indonesia dan Australia sudah sangat baik. Namun dari sisi investasi, potensi kerja sama antara kedua negara belum maksimal. Sebagai negara terdekat, realisasi investasi Australia di Indonesia dalam kurun 5 tahun terakhir yaitu periode 2019 – 2024, baru sebesar USD1,96 miliar.
Kepala BKPM itu mengatakan bahwa antara Indonesia dan Australia dapat berkolaborasi dalam pengembangan industri baterai mobil listrik. Kedua negara sama-sama memiliki komoditas nikel, Indonesia juga memiliki kobalt dan mangan, hanya litium saja yang tidak ada dan itu dimiliki Australia.
“Saya yakin hubungan Indonesia dan Australia bisa dipererat lagi. Dalam konteks investasi, jujur kami katakan belum maksimal. Ini tugas kita bersama. Jika kedua negara bisa berkolaborasi, ini akan menjadi kekuatan baru dalam industri baterai mobil listrik,” kata Menteri Investasi Bahlil dalam siaran pers yang diterima InfoPublik pada Senin (13/5/2024).
Bahlil menekankan fokus pemerintah Indonesia untuk saat ini pada sektor hilirisasi dengan salah satu upayanya adalah tidak lagi mengekspor komoditas mentahnya untuk diproses di luar negeri, melainkan harus di tanah air. Program itu telah dilakukan pemerintah secara bertahap sejak pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Komoditas pertama yang dilarang ekspornya adalah nikel di tahun 2020 dan hasilnya telah dirasakan saat ini. Pada 2017 ekspor produk turunan nikel hanya sebesar USD3,3 miliar, di 2022 meningkat 10 kali lipat hingga USD33,8 miliar. Hal tersebut tidak mudah direalisasi karena mendapat tentangan dari negara lain yang merasa dirugikan.
“Kami sudah memulai (hilirisasi), ibarat pesawat kami sudah take off. Tidak ada satu negara pun yang dapat memerintahkan kita untuk mundur. Kami akan jalan terus seiring berjalan waktu dan dinamika global,” tegas Bahlil.
Selain itu, Bahlil menegaskan bahwa hilirisasi yang dilakukan oleh Indonesia telah memperhatikan aspek lingkungan dan dapat menjadi contoh bagi negara lainnya. Bahkan, Menteri Investasi juga mengajak investor untuk datang ke kawasan industri Weda Bay di Maluku Utara untuk melihat langsung kawasan industri yang ramah lingkungan.
Pada kesempatan yang sama, Duta Besar Republik Indonesia untuk Australia dan Vanuatu Siswo Pramono menyoroti tentang investasi Australia di Indonesia sejak lama didominasi oleh pertambangan dan pariwisata. Beberapa waktu belakangan, investasi Australia mulai meluas ke sektor energi, kesehatan, pendidikan, utilitas, kimia, dan properti.
“Sesuai dengan topik IABS hari ini, kami ingin menggali peluang emas kedua negara. Kami menatap ke arah pertumbuhan menarik dari hubungan ekonomi Indonesia-Australia yang terus berkembang,” ucap Siswo.
Related News
Ekonomi Tumbuh Sesuai Harapan Pasar, Waspadai Kontraksi PMI Manufaktur
Era AI Trading, IPOT Sodorkan UI/UX Berbasis AI Real Time
IHSG Melenggang di Sesi I (5/5) Balik ke Level 7.000
Penjualan Toyota Motor Pada Maret 2026 Susut 5,8 Persen
Kemenperin Siapkan Insentif Bentengi Industri Dari Gejolak Geopolitik
Dibuka Loyo, IHSG Pagi bergerak Volatil





