EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung tergelincir tajam pada awal perdagangan sesi pertama, Senin (16/3/2026), seiring tekanan jual yang meluas di hampir seluruh sektor.

Indeks dibuka di posisi 7.137,21. Namun kurang dari lima belas menit setelah perdagangan dimulai, IHSG terperosok 3,08 persen dan menyentuh level terendah harian di 6.917,32.

Tekanan pasar terlihat dari dominasi saham yang melemah. Tercatat 564 saham turun, 77 saham naik, dan 84 siasanya flat.

Aktivitas transaksi pada sesi pertama juga terbilang relatif sepi. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp2,64 triliun dengan volume 7,01 miliar saham yang diperdagangkan dalam 335.764 kali transaksi.

Seiring pelemahan indeks tersebut, kapitalisasi pasar di bursa domestik kembali terkikis menjadi sekitar Rp12.360 triliun.

Secara tren, IHSG masih bergerak dalam fase bearish. Penurunan tajam juga terlihat bila dibandingkan dengan posisi puncaknya sejak awal tahun. Dari level 9.134,70 pada 20 Januari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot ke 6.917,32 pada 16 Maret 2026.

Artinya, indeks telah kehilangan 2.217,38 poin atau setara 24,27 persen hanya dalam kurun sekitar 55 hari kalender. Koreksi sedalam ini menandakan tekanan jual yang sangat kuat di pasar saham domestik dalam waktu kurang dari dua bulan. 

Tekanan terhadap pasar saham domestik juga dipengaruhi sentimen global. Indeks-indeks utama di Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Jumat (13/3), memperpanjang koreksi secara mingguan.

Menurut riset Phintraco Sekuritas dalam laporan PHINTAS Weekly Market Review (16/3/2026), penguatan harga minyak mentah menjadi salah satu sentimen negatif bagi pasar global.

Harga minyak Brent tercatat bertahan di atas US$100 per barel selama dua hari berturut-turut, sementara minyak WTI juga menguat di atas US$98 per barel pada perdagangan Jumat (13/3). Kondisi ini terjadi di tengah konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, sehingga memunculkan kekhawatiran potensi stagflasi.

Menengok sisi lain, harga emas justru melemah akibat penguatan dolar AS, meningkatnya kekhawatiran inflasi, serta memudarnya harapan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.

Phintraco menilai perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah serta dampaknya terhadap pasar energi masih akan mempengaruhi arah bursa global dan keputusan kebijakan moneter bank sentral.

Bank sentral AS atau Federal Reserve diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5–3,75 persen pada pertemuan 18 Maret 2026. Investor global juga menunggu proyeksi ekonomi terbaru dari bank sentral tersebut untuk melihat bagaimana risiko inflasi dinilai di tengah konflik geopolitik yang berlangsung.

Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada kebijakan pemerintah dalam menghadapi lonjakan harga minyak mentah. Prabowo Subianto menyatakan pemerintah lebih cenderung melakukan penghematan dan efisiensi anggaran dibandingkan memperlebar defisit APBN.

Selain itu, pelaku pasar juga menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang diperkirakan akan mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen pada 17 Maret 2026.

Secara teknikal, Phintraco dalam risetnya memperkirakan IHSG berpotensi menguji level psikologis 7.000 dengan area resistance di 7.200, pivot di 7.100, dan support di 7.000.

Adapun, sejumlah saham yang dinilai menarik untuk dicermati pekan ini atas rekomendasi Phintraco Sekuritas antara lain PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), serta PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR).