EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street kemarin ditutup melemah tipis setelah bergerak cukup fluktuatif sepanjang sesi. Itu menyusul kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah ke level tertinggi beberapa tahun terakhir. Imbal hasil obligasi pemerintah dengan tenor 30 tahun menguat di atas level 5,6 persen, merupakan level tertinggi sejak Juni 2002.

Sedangkan imbal hasil obligasi tenor 10 tahun menyentuh 5,29 persen. Sejalan dengan penguatan imbal hasil tersebut, saham sektor perbankan terpangkas. Misalnya, JP Morgan Chase susut 0,48 persen, Morgan Stanley melorot 0,45 persen, dan Bank of America anjlok 0,92 persen.

Aksi jual masif investor asing, depresiasi nilai tukar rupiah, dan koreksi indeks bursa Wall Street setelah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah berlanjut diprediksi menjadi sentimen negatif pasar. Sementara itu, lonjakan harga beberapa komoditas mineral logam berpeluang menjadi sentimen positif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG).

So, IHSG diprediksi bergerak bervariasi cenderung menguat dengan kisaran support 6.060-6.000, dan resistance 6.180-6.245. Menilik data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan saham Timah (TINS), Antam (ANTM), Bank BRI (BBRI), Map Aktif (MAPA), Hartadinata (HRTA), dan Semen Indonesia (SMGR). (*)