EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street kemarin kompak ditutup melemah tipis. Itu seiring lonjakan harga minyak mentah menyusul aksi jual beli serang Amerika Serikat (AS) dan Iran. AS telah menuntaskan serangan untuk kali kesembilan beruntun terhadap Iran semalam.

Namun, sentimen investor membaik menjelang tengah pagi di London setelah juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, memcunculkan harapan akan penyelesaian diplomatik. Menurut Baghaei mediator terus bertukar pesan dengan Iran, dan negoisasi antara kedua pihak berlanjut berdasar kepentingan nasional.

Meski demikian, harga minyak mentah kembali naik (WTI) 0,9 persen ke level USD83,23 per barel, dan Brent melejit 1,3 persen menjadi USD89,22 per barel setelah presiden AS Donald Trump mengancam Iran. Trump mengatakan Iran akan membayar berkali-kali lipat atas kematian tiga anggota militer AS.

Koreksi indeks bursa Wall Street, dan harga komoditas mineral logam diprediksi menjadi sentimen negatif pasar. Lonjakan harga komoditas energi, dan aksi beli masif investor asing berpeluang menjadi sentimen positif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG). so, IHSG diprediksi bergerak bervariasi cenderung menguat dengan kisaran support 6.170-6.110, dan resistance 6.295-6.355.

Menilik data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan saham Energi Mega Persada (ENRG), Elnusa (ELSA), Alamtrie Resources Indonesia (AADI), Alamtrie Indonesia (ADRO), Telkom Indonesia alias Telkom (TLKM), dan Unilever Indonesia (UNVR). (*)