EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup susut 0,43 perssen menjadi 6.121. Kontributor pelemahan terbesar saham sektor teknologi dengan perosotan 3,37 persen. Sebelumnya, IHSG sempat melemah hingga level 6.013 akibat depresiasi Rupiah hingga Rp18.031 per dolar Amerika Serikat (USD).

Seiring longsoran Rupiah berkurang, IHSG dapat pulih dari level terendah harian. IHSG membentuk long lower shadow namun karena masih ditutup di area negatif sehingga belum menunjukkan konfirmasi reversal. Beberapa indikator lain juga belum menunjukkan terjadi reversal.

Oleh karena itu, IHSG akan cenderung berkonsolidasi pada kisaran 6.050-6.200. Perlu diwaspadai peningkatan fluktuasi karena penutupan kuartal III 2026 hari ini.  DPR telah menetapkan RUU APBN 2027 sebagai UU. APBN 2027 tetap mempertahankan defisit fiskal sesuai usulan awal nota keuangan yaitu Rp671,16 triliun atau setara 2,4 persen dari product domestic bruto (PDB).

Meski demikian, terdapat perubahan dari target pendapatan, dan belanja negara. Untuk pendapatan negara, kesepakatan terbaru antara pemerintah dan Banggar DPR senilai Rp3.435,10 triliun dari usulan awal Rp3.426,03 triliun. Untuk belanja negara target berubah menjadi Rp4.106,26 triliun dari usulan semula Rp4.097,19 triliun.

Postur APBN 2027 tersebut menunjukkan ekspansi fiskal relatif terjaga. Untuk kenaikan belanja terutama dari belanja K/L, sedang transfer ke daerah, dan target keseimbangan primer relatif tidak berubah. APBN diharap dapat menjaga dukungan fiskal terhadap pertumbuhan domestik yaitu pada konsumsi dan investasi.

Namun, tetap perlu memperhatikan ruang fiskal dan kebutuhan pembiayaan karena defisit masih relatif besar. Beberapa alokasi anggaran utama adalah pendidikan Rp824 triliun, perlindungan sosial Rp539,7 triliun, kesehatan Rp244,9 triliun, dan ketahanan pangan nasional Rp195,3 triliun.

Berdasar data itu, Phintraco Sekuritas menyarankan para investor untuk sejumlah saham andalan berikut. Yaitu, Anka Tambang alias Antam (ANTM), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Mandiri (BMRI), XLSmart Telecom (EXCL), Timah (TINS), dan Merdeka Copper Gold (MDKA). (*)