EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup menguat 0,79 persen menjadi 5.096. Sebelumnya, indeks sempat bergerak melemah hingga menyentuh level 4.983. IHSG berbalik menguat hingga mencapai posisi 5.123, setelah rilis sejumlah data ekonomi domestik lebih baik dari estimasi.

Secara teknikal, terjadi sedikit penyempitan histogram negatif MACD IHSG, sedang Stochastic RSI mengindikasikan potensi golden cross di area pivot. So, IHSG akan bergerak sideways. Sepanjang perdagangan hari ini, Selasa, 3 November 2026, IHSG akan menyusuri kisaran 4.950-5.200.

Data inflasi Oktober tercatat 0,22 persen MoM, dan 3,23 persen YoY, sedikit melambat dibandingkan 0,3 persen MoM, dan 3,28 persen YoY pada September 2026. Indeks S&P Global Manufacturing PMI melanjutkan penguatan di level 54 pada Oktober 2026 dari edisi September 2026 di kisaran 52.4, lebih baik dari perkiraan level 51.9.

Demikian juga dengan neraca perdagangan membukukan surplus USD3,36 miliar pada September 2026, lebih rendah dari periode Agustus 2026 di level USD3,55 miliar, namun lebih tinggi dibanding konsensus USD1,9 miliar. Secara keseluruhan, indikator itu, menunjukkan fundamental ekonomi domestik relatif terjaga, dengan aktivitas produksi menguat, dan tekanan inflasi sedikit mereda.

Namun, perbaikan indikator domestik tersebut belum mampu meredam tekanan di pasar obligasi pemerintah. Yield SUN tenor 10 tahun meningkat ke level 7,75 persen, level tertinggi sejak 2020. Kenaikan itu, dipengaruhi peningkatan yield global, tekanan terhadap Rupiah, arus keluar dana asing, dan kenaikan premi risiko Indonesia.

Kondisi tersebut menunjukkan investor masih meminta imbal hasil lebih tinggi untuk mengompensasi risiko, sehingga tekanan terhadap harga obligasi, dan biaya pembiayaan pemerintah berpotensi berlanjut dalam jangka pendek. Berdasar data itu, menjagokan saham Bumi Serpong (BSDE), Bank BRI (BBRI), Bank BNI (BBNI), Summarecon (SMRA), dan Surya Semesta (SSIA). (*)