EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup melemah 0,69 persen menjadi 7.389. Sempat bergerak menguat pada sesi pertama, indeks bergerak di teritori negatif sepanjang sesi kedua. Investor cenderung melakukan trading jangka pendek di tengah eskalasi ketidakpastian konflik AS-Israel vs Iran.

Selain itu, menjelang libur panjang Idulfitri medio pekan depan. Sektor basic material mencatat koreksi terbesar, dan sektor teknologi membukukan kenaikan terbesar. Rupiah ditutup melemah di level Rp16.886 per dolar Amerika Serikat (USD), akibat konflik geopolitik Timur Tengah masih berlangsung.

Kekhawatiran akan data ekonomi domestik termasuk potensi inflasi, dan defisit APBN berpeluang melebar. Secara teknikal, indikator Stochastic RSI, dan MACD masih cenderung melemah. Indeks sempat bergerak menguat hingga level 7.527, sebelum akhirnya ditutup melemah kembali. 

So, indeks diperkirakan masih akan cenderung bergerak melemah menguji level 7.300-7.350. Indeks bursa Asia ditutup mixed kala investor tengah investor menanti perkembangan konflik Timur Tengah. Tiga kapal  lepas pantai Iran telah terkena proyektil sekitar Selat Hormuz, sehingga kembali mendorong kenaikan harga minyak mentah. 

Lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz sangat penting, dan strategis nyaris lumpuh sejak AS dan Israel melakukan serangan udara ke Iran pada 28 Februari 2026. Menilik data itu, Phintraco Sekuritas menyarankan investor menjala saham ULTJ, UNVR, TOBA, WIFI, dan BSDE. (*)