EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street kompak kemarin ditutup melemah. Itu dipicu babak lanjutan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah, dan saham sektor teknologi berhubungan dengan AI tertekan. Imbal hasil obligasi bertenor 10 naik menjadi 5,2 persen, dan 30 tahun ke posisi 5,5 persen. Itu merupakan level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Sementara itu, emiten teknologi berbasis AI yang mencatatkan pelemahan di antaranya Advanced Micro Device 3,6 persen, Micron Technology 2,6 persen, Amazon 1,41 persen, Microsoft 1,35 persen, dan Meta Platform 4,79 persen. Nvidia justru melonjak 1,7 persen dengan rencana buyback USD150 miliar.

Koreksi indeks bursa Wall Street, depresiasi rupiah, aksi jual investor asing, dan efek pemberlakuan batas bawah harga saham Rp1 diprediksi menjadi sentimen negatif pasar. Lonjakan harga komoditas energi berpeluang menjadi sentimen positif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG).

So, IHSG diprediksi bergerak bervariasi cenderung melemah dengan kisaran support 6.090-6.030, dan resistance 6.205-6.260. Menilik data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan saham Bukit Asam (PTBA), Adaro (AADI), Mitra Adiperkasa (MAPI), Energi Mega (ENRG), Medco (MEDC), dan Alfamart (AMRT). (*)