EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street kemarin ditutup melemah. Itu dipicu lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah di tengah kekhawatiran investor terhadap peluang kembali pengerekan suku bunga acuan The Fed. Kenaikan imbal hasil obligasi setelah Gubernur Federal Reserve, Michael Barr masih perlu penyesuaian kebijakan moneter di masa mendatang.

Selain itu, juga data Purchasing Manager Index lebih tinggi dibanding sebelumnya. Imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun kembali naik di atas 5 persen tepatnya menjadi 5,135 persen, level tertinggi sejak Juli 2007. Kenaikan tersebut juga merupakan kenaikan harian tertinggi sejak April 2025.

Sementara itu, imbal hasil obligasi dengan tenor 2 tahun juga mencatat level tertinggi sejak Mei 2024 yaitu 4,947 persen. Saat ini, probabilitas The Fed kembali menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan Oktober 2026 tercatat naik menjadi 66 persen dari sebelumnya 55,4 persen.

Koreksi mayoritas harga komoditas, dan pelemahan indeks bursa Wall Street seiring kekhawatiran The Fed akan kembali menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan akhir Oktober 2026 nanti diprediksi menjadi sentimen negatif pasar. Di sisi lain, keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan berpeluang masih menjadi sentimen positif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG).

Meski begitu, IHSG diprediksi bergerak bervariasi cenderung melemah dengan kisaran support 6.300-6.225, dan resistance 6.450-6.525. Menilik data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan saham Timah (TINS), Antam (ANTM), Merdeka Gold (EMAS), Archi (ARCI), Bukit Asam (PTBA), dan Semen Indonesia (SMGR). (*)