Indonesia Bertekad Jadi Hub Manufaktur Furnitur Global
Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika pada Pembukaan Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2026 di Jakarta pekan ini.(Foto: Kemenperin)
EmitenNews.com - Posisi manufaktur Indonesia di tingkat global semakin diperhitungkan dengan nilai Manufacturing Value Added (MVA) mencapai USD 265,07 miliar, menempatkan Indonesia di peringkat ke-13 dunia dan posisi pertama di regional ASEAN. Salah satu subsektor yang turut berperan dalam memperkuat capaian tersebut adalah industri furnitur.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (6/3) memaparkan selain memberikan nilai tambah bagi perekonominan nasional, subsektor industri furnitur juga dikenal sebagai industri padat karya yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar serta mendorong aktivitas ekonomi di berbagai daerah.
“Industri furnitur merupakan model hilirisasi kayu yang krusial karena bersifat padat karya, mampu menciptakan nilai tambah, serta memberikan efek berganda bagi pertumbuhan ekonomi dalam negeri," kata Menperin.
Sektor ini juga menyerap ratusan ribu tenaga kerja dan terhubung langsung dengan pasar global yang nilainya mencapai lebih dari USD 736,21 miliar. "Dalam lima tahun ke depan, Indonesia diproyeksikan tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga mampu memimpin dalam aspek desain dan keberlanjutan,” ungkapnya.
Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika menambahkan bahwa industri furnitur merupakan sektor manufaktur strategis (strategic manufacturing sector) yang menjadi pilar hilirisasi berbasis sumber daya alam.
“Kami berkomitmen mendorong transformasi industri furnitur tidak hanya sekadar produsen namun juga menjadi pusat manufaktur global yang berbasis desain dan keberlanjutan,” kata Putu pada Pembukaan Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2026 di Jakarta beberapa waktu lalu.
Dalam perkembangannya, sektor industri furnitur dalam negeri masih menghadapi sejumlah tantang diantaranya seperti penurunan ekspor sebesar 3% pada tahun 2025 (menjadi USD 1,85 Miliar) dan kenaikan impor sebesar 6% (menjadi USD 0,82 Miliar).
Namun meski demikian pemerintah tetap optimistis dengan melakukan penguatan struktur industri nasional melalui modernisasi mesin dan peningkatan daya saing menjadi kunci untuk merebut kembali pasar domestik yang saat ini menyerap 78,39% output manufaktur nasional, sekaligus memperluas penetrasi ekspor.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tantangan lainnya berasal dari geopolitik yang menghambat logistik serta regulasi lingkungan global seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang harus dijawab dengan kesiapan sertifikasi.
Menanggapi tantang tersebut, Indonesia telah memiliki modal kuat melalui Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK) agar produk furnitur nasional tetap responsible dan sustainable.
Lebih lanjut, Kemenperin terus berkomitmen untuk meningkatkan produktivitas salah satunya melalui Program Restrukturisasi Mesin/Peralatan Industri Pengolahan Kayu. Hingga saat ini, program tersebut telah memfasilitasi 35 perusahaan dengan total nilai reimbursemencapai Rp26,1 Miliar. Dampaknya sangat nyata, dengan efisiensi proses sebesar 10,70%, peningkatan mutu produk sebesar 36,28%, serta lonjakan produktivitas mencapai 32,65%.(*)
Related News
Kunjungan Ke Mal Jelang Lebaran Tahun Ini Diperkirakan Meningkat 15%
BINA Lebaran 2026 Targetkan Transaksi Rp53,38 Triliun
IHSG Akhir Pekan Ambles ke 7.585, Seluruh Sektor Masuk Zona Merah
10 Kursi AB Kembali Dilelang Pada Awal April 2026, Siapa Berminat?
ACC dan Yayasan Astra Guyur UMKM dengan Dana Bergulir
IHSG Sesi I Drop 2,61 Persen ke 7.509, Saham-Saham Konglo Berguguran





