EmitenNews.com - Tingkat inflasi tahunan di AS melandai ke angka 3,4% pada bulan Juli, turun dari 3,5% pada bulan Juni, sejalan dengan ekspektasi pasar. Melandainya inflasi membuat kekhawatiran The Fed akan menaikkan suku bunga menjadi berkurang.

Sebab, Bank Sentral AS tidak mempunyai alasan yang sangat kuat menaikkan suku bunga sebagai respons dari inflasi yang naik.

Anadolu, memberitakant tingkat inflasi bulanan tercatat sebesar 0,1% pada bulan Juli, naik dari minus 0,4% pada bulan Juni, menurut data resmi dari Biro Statistik Tenaga Kerja (Bureau of Labor Statistics) yang dirilis pada  Rabu (12/8/2026).

Pada bulan Mei, tingkat inflasi tahunan sempat mencapai angka tertinggi sejak April 2023, yakni sebesar 4,2%.

Di antara berbagai sub-indeks, sektor energi mencatat kenaikan tertinggi sebesar 14,7%, sementara inflasi harga pangan tercatat sebesar 3%.

Pertumbuhan harga konsumen AS sedikit mereda sesuai ekspektasi pada Juli. Dalam dua belas bulan hingga Juli, indeks harga konsumen (IHK) AS turun ke 3,4% dari 3,5% pada Juni, sejalan dengan proyeksi.

Secara bulanan, IHK utama dari Departemen Tenaga Kerja naik kembali sesuai perkiraan ke 0,1%, setelah sebelumnya turun sebesar 0,4%.

Indeks energi, yang menjadi sorotan di tengah lonjakan harga minyak baru-baru ini akibat perang Iran, turun sebesar 1,5% secara bulanan, meskipun melonjak 14,7% secara tahunan.

Harga bensin, khususnya, turun 2,9% secara bulanan, mencatat penurunan untuk bulan kedua berturut-turut.

Investing.com, Rabu (12/8/2026) menulis harga minyak berfluktuasi dalam beberapa pekan terakhir. Ini akibat perkembangan yang sering kali saling bertentangan di Timur Tengah, dengan harapan yang kerap naik turun terkait penyelesaian jangka panjang untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur perairan vital bagi pengiriman minyak mentah global yang telah efektif tertutup selama berbulan-bulan.