EmitenNews.com - Inflasi konsumen inti Jepang naik 2,1 persen secara tahunan pada September 2026, melampaui target Bank Sentral Jepang (BOJ) sebesar 2 persen untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan. Lonjakan inflasi ini memperkuat peluang kenaikan suku bunga acuan BOJ dalam waktu dekat, yang berpotensi memengaruhi dinamika pasar keuangan global serta nilai tukar di kawasan Asia, termasuk rupiah Indonesia.

Berdasarkan data pemerintah Jepang yang dirilis pada Jumat (23/10), indikator harga yang tidak termasuk makanan segar dan energi naik menjadi 2,4 persen dari posisi 1,9 persen pada Agustus. Tekanan harga tersebut dipicu oleh tingginya biaya bahan bakar akibat konflik di Timur Tengah, tingginya harga impor akibat pelemahan yen, serta tingginya permintaan terkait teknologi kecerdasan buatan (AI).

"Kira-kira mendekati 2 persen dan kita tidak dapat mentolerir kenaikan lebih lanjut," ujar Gubernur BOJ Kazuo Ueda sebagaimana dilaporkan dalam konferensi pers pada Jumat (16/10).

Sikap tegas BOJ tersebut menyusul langkah bank sentral yang telah menaikkan suku bunga kebijakannya ke level 1,25 persen pada bulan lalu, yang merupakan level tertinggi dalam 31 tahun. Langkah ini diambil untuk mencegah inflasi inti melonjak melebihi target yang ditetapkan.

Pasar memperkirakan BOJ akan mempertahankan suku bunga dalam pertemuan kebijakan pada 29-30 Oktober mendatang, sambil merevisi proyeksi inflasi ke atas. Pelaku pasar memproyeksikan kenaikan suku bunga acuan berikutnya baru akan dieksekusi pada pertemuan BOJ bulan Desember.

Bagi perekonomian Indonesia, pergerakan suku bunga dan penguatan yen Jepang menjadi perhatian penting terkait stabilitas nilai tukar Rupiah, biaya penerbitan obligasi berdenominasi yen (Samurai Bond), serta arus modal di pasar emerging market.(*)