EmitenNews.com - Bank of Japan (BOJ) memberi sinyal potensi percepatan kenaikan suku bunga acuan seiring dengan berlanjutnya pemulihan ekonomi dan meningkatnya risiko inflasi di Jepang. Langkah kebijakan moneter bank sentral Jepang ini berpotensi memicu volatilitas pada pergerakan nilai tukar yen serta arus modal di kawasan Asia, termasuk pasar keuangan Indonesia.

Ringkasan pendapat anggota dewan BOJ pada Pertemuan Kebijakan Moneter tanggal 30–31 Juli 2026 mengungkapkan bahwa ekonomi Jepang terus pulih secara moderat. Pertumbuhan ini utamanya ditopang oleh tingginya permintaan global terkait teknologi kecerdasan buatan (AI) serta daya tahan konsumsi domestik.

"Mengingat inflasi CPI inti telah mendekati 2 persen dan kondisi keuangan masih akomodatif, sangat tepat bagi Bank untuk terus menaikkan suku bunga kebijakan dan menyesuaikan tingkat akomodasi moneter," demikian rilis resmi Bank of Japan dalam dokumen Ringkasan Pendapat Kebijakan Moneter.

BOJ mencatat bahwa risiko kenaikan harga saat ini cenderung meningkat signifikan. Faktor pemicunya meliputi kenaikan biaya distribusi domestik, tingginya harga bahan baku pangan, pelemahan mata uang yen, serta dinamika risiko geopolitik di Timur Tengah yang menekan harga energi impor.

Beberapa anggota dewan BOJ menekankan pentingnya respons moneter yang lincah guna mencegah inflasi menyimpang terlalu jauh di atas target 2 persen. BOJ menilai keterlambatan penyesuaian suku bunga justru berisiko memicu kenaikan suku bunga secara drastis di kemudian hari yang dapat memberi kejutan ganda bagi perekonomian.

"Fokus kebijakan moneter telah bergeser dari mengangkat inflasi CPI inti ke tingkat 2 persen menjadi menghindari penyimpangan kenaikan lebih lanjut pada inflasi CPI inti," tulis laporan BOJ tersebut.

Dari sisi pemerintah Jepang, perwakilan Kementerian Keuangan dan Kantor Kabinet yang hadir menekankan komitmen pengelolaan fiskal secara proaktif dan bertanggung jawab. Pemerintah berharap BOJ terus berkoordinasi erat dalam menjalankan kebijakan moneter guna mencapai target stabilitas harga 2 persen secara berkelanjutan sekaligus menjaga kepercayaan pasar.(*)