EmitenNews.com - Ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) untuk pertemuan Oktober 2026 surut secara drastis. Penurunan ini didorong oleh rilis data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan serta sinyal perlambatan pengetatan moneter dari sejumlah pejabat senior The Fed.

Pasar merespons pernyataan dari dua anggota troika kebijakan moneter The Fed yang mengindikasikan pendekatan lebih hati-hati. Kondisi ini memberikan stabilitas baru bagi pergerakan pasar keuangan global, termasuk pasar modal dan nilai tukar rupiah di Indonesia.

"Satu kenaikan suku bunga lagi hingga akhir tahun ini mungkin tepat, tetapi tidak perlu terburu-buru," ujar Presiden Bank Federal Reserve New York John Williams pada Selasa (29/9).

Pernyataan senada disampaikan oleh Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson pada Kamis (1/10). Jefferson menekankan bahwa para pembuat kebijakan perlu menilai dengan cermat tren data serta prospek sebelum menyesuaikan kebijakan, sehingga proses penilaian membutuhkan waktu lebih lama.

Probabilitas kenaikan suku bunga pada Oktober yang sebelumnya berada di kisaran 70 persen langsung merosot usai pernyataan kedua pejabat tersebut dipublikasikan. Pelaku pasar memanfaatkan komentar tersebut sebagai petunjuk utama, mengingat Ketua The Fed Kevin Warsh memilih tidak memberikan sinyal langsung mengenai arah suku bunga dan konsisten menerapkan pendekatan berbasis data.

Kepala Ekonom AS di JPMorgan Chase, Michael Feroli, menilai pidato dari para pejabat tinggi The Fed tersebut sebagai langkah strategis untuk mengelola ekspektasi pasar secara terukur.

"Kedua pidato tersebut menyampaikan pesan bahwa The Fed tidak perlu terus menaikkan suku bunga di setiap pertemuan dan sekarang dapat menyesuaikan interval antara kenaikan tersebut," kata Michael Feroli merespons dinamika kebijakan moneter tersebut.

Ekonom Goldman Sachs dan Evercore ISI turut memperkuat pandangan bahwa kenaikan suku bunga pada Oktober sulit terwujud. Penundaan pengetatan suku bunga AS ini berpotensi meredam tekanan terhadap arus modal keluar (capital outflow) dari pasar berkembang seperti Indonesia.(*)