EmitenNews.com - Ini versi Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir  mengenai kondisi kerugian PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). Hingga kini maskapai pelat merah itu, terlilit utang sampai Rp128 triliun lebih. Utang sebesar itu, dipicu oleh bisnis model yang salah urus, dan terus berlanjut berpuluh-puluh tahun hingga puncaknya meledak saat pandemi Covid-19 di awal 2020. Parahnya lagi, BUMN penerbangan ini terlalu dimanja, dan kemudian dimanfaatkan oknum tertentu.


"Sejak awal Garuda bisnis modelnya sudah salah dan ini sudah berlanjut puluhan tahun," kata Menteri Erick dalam acara Kick Andy Double Check, Minggu (14/11/2021) malam.


Selama ini Garuda menurut Menteri Erick terlalu dimanja karena memiliki domestik market yang sangat kuat. Kondisi tersebut kemudian dimanfaatkan oleh oknum di tubuh Garuda Indonesia, dengan pemikiran terbang atau membuka rute keluar negeri.


Akibatnya, kata Erick Thohir, jumlah pesawat Garuda Indonesia kini beragam jenis. Dibuatlah skenario bahwa jika ingin terbang ke suatu negara harus menggunakan pesawat jenis A atau B. Dengan banyaknya jenis pesawat, paling banyak di dunia, yang dimiliki dalam satu airline industry. "Pada akhirnya kita paling mahal sewa pesawat, 28 persen. Rata-rata dunia itu 6 persen daripada pos operasional."


Menteri Erick Thohir bahkan menyebut ada skenario mencari uang di penyewaan pesawat. Buktinya, Komisi Pemberantasan Korupsi sudah memenjarakan beberapa oknum karena kasus itu. Mantan Bos Inter Milan ini melihat yang dihadapi Garuda saat ini sangat kompleks. Semata-mata bukan karena kejadian hari ini, tetapi sudah kejadian berpuluh-puluh tahun.


Saat ini Garuda tengah masuk dalam proses restrukturisasi. Manajemen dan pemerintah kata Erick Thohir, tengah berjuang melakukan negosiasi kepada para lessor dan juga kreditur. Ia menambahkan, perbaikan Garuda harus dijalankan seperti halnya kasus Jiwasraya. Ia melihat masih ada harapan. Masih ada kepercayaan pihak lain. Ia menyebutkan, Garuda menandatangani kerja sama dengan Uni Emirat Arab (UEA). ***