EmitenNews.com - Sutiyoso menghuni komisaris PT Pembangunan Jaya Ancol (PJAA). Gubernur DKI Jakarta 1997-2007 itu, diangkat bersama direksi anyar perseroan. Ya, pengangkatan Bang Yos begitu sapaan keren Sutiyoso ditahbiskan dalam rapat umum pemegang saham tahunan perseroan. 


Bang Yos mendapat tempaan dan didikan keras sejak kecil. Anak ke enam dari delapan bersaudara itu, lahir di Semarang, 6 Desember 1944. Ayah Sutiyoso bernama Tjitrodiharjo, dan Ibu Sumini. Sejak lulus SMA di Semarang pada 1963, Sutiyoso kuliah di Universitas 17 Agustus, hanya berlangsung setahun. Ia masuk Akademi Militer, Magelang, dan lulus pada 1968. 


Jejak karier militer Sutiyoso mulai menonjol. Itu terefleksi dari peningkatan dari Asisten Personel Kopassus, Asisten Operasi, Wakil Komandan Jenderal Kopassus, Komandan Korem 062 Suryakencana, hingga kepala staff Kodam Jaya pada 1994. Puncaknya, Bang Yos  menjadi Panglima Kodam Jaya pada 1996.


Lepas dari militer, Bang Yos menjadi Gubernur DKI Jakarta dua periode yaitu 1997-2007. Kala menjadi orang nomor satu DKI, Bang Yos banyak melakukan gebrakan. Ia satu-satunya gubernur mengalami lima kali pergantian presiden RI. Setelah meninggalkan balai kota, Sutiyoso mencoba peruntungan dunia politik. 


Sutiyoso masuk Partai Keadilan Persatuan (PKP). PKP bertransformasi menjadi Partai Keadilan Persatuan Indonesia (PKPI) dan Sutiyoso sebagai Ketua Umum PKPI 2010-2015. Pada Pilpres 2014, Bang Yos bersama partainya mengusung capres Joko Widodo (Jokowi). Hasilnya, Jokowi mendaulat Sutiyoso sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) pada 2015.


Sementara itu, hasil RUPS tahunan Jaya Ancol memberhentikan direksi yaitu Teuku Sahir Syahali, Febrina Intan, Wing Antariksa, Budi Santoso, dan Suparno. Teuku Sahir Syahali selanjutnya mengemban tugas baru di PT Pembangunan Jaya. Lalu, Wing, Suparno, Budi, dan Febby akan menyebar pada BUMD, BUMN, dan swasta.


Direktur utama dijabat Winarto dan direktur baru lain meliputi Daniel Nainggolan, Eddy Prastiyo, dan Cahyo Prakoso. Winarto berpengalaman sebagai Direktur Utama Pusat Pengelolaan Gelora Bung Karno (GBK) periode 2016-2021. Daniel dan Eddy berpengalaman dalam mengelola Ancol. Daniel pernah menjabat direktur keuangan pada 2016-2019, dan Eddy berkarier selama 20 tahun di Ancol dengan jabatan terakhir Senior Vice President PJAA, dan Direktur Bisnis dan Operasi PT Taman Impian Jaya Ancol.


Sepanjang tahun lalu, perseroan mencatat pendapatan kotor turun 6 persen menjadi Rp389,34 miliar. Perseroan menderita kerugian Rp275,02 miliar, posisi tersebut membaik 30 persen dari rugi 2020. Itu didorong implementasi perubahan, dan terobosan manajemen memberikan landasan kuat untuk transformasi Ancol. (*)