EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia melanjutkan tren kenaikan mendekati level USD95 per barel, sementara minyak mentah Brent melonjak di atas USD106 per barel pada Rabu (14/10).

Kenaikan ini, seperti dilaporkan Trading Economics, menandai penguatan selama lima sesi berturut-turut yang dipicu oleh meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah. Lonjakan harga energi global ini berpotensi memberikan tekanan pada anggaran subsidi BBM dan inflasi di Indonesia.

Militan Houthi asal Yaman menyerang markas besar Saudi Aramco di Dhahran, Arab Saudi bagian timur, menggunakan serangan rudal yang memicu kebakaran di sebagian kompleks tersebut pada Selasa (13/10).

Penyerangan ini memperparah kekhawatiran pasar global terhadap gangguan rantai pasokan minyak mentah. Sebelum insiden ini, kelompok pemberontak tersebut juga menargetkan bandara utama Riyadh pada akhir pekan lalu.

Di sisi lain, koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan balasan untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai pemberontak di Yaman. Pada saat yang sama, Teheran meningkatkan serangan terhadap kapal-kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Pemerintah Amerika Serikat menyatakan pihaknya telah membantu memfasilitasi lalu lintas lebih dari 19 juta barel minyak mentah yang melintasi jalur air strategis tersebut.

Sementara itu di Eropa, Presiden Amerika Serikat Donald Trump membela perjanjian ekspor diesel yang dibuatnya bersama Rusia.

"Pasokan tambahan akan memasuki pasar global dan membantu meredakan harga yang tinggi," kata Presiden AS Donald Trump.

Eskalasi di Timur Tengah dan dinamika pasokan minyak global ini menjadi perhatian serius bagi perekonomian Indonesia. Lonjakan harga minyak mentah dunia berisiko membengkakkan beban APBN untuk belanja subsidi energi serta memicu tekanan pada nilai tukar rupiah akibat peningkatan biaya impor migas.(*)