EmitenNews.com - Indeks Kospi Korea Selatan merosot lebih dari 7 persen dalam perdagangan intraday pada Kamis (15/10), jatuh ke kisaran level 5.500. Penurunan tajam tersebut menempatkan indeks saham acuan Korea Selatan berada lebih dari 40 persen di bawah rekor tertingginya yang dicapai pada Juni.

Berdasarkan laporan Bloomingbit.io, Kamis (15/10), sentimen negatif pasar global akibat rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) dan kekhawatiran investasi kecerdasan buatan (AI) turut memberikan tekanan bagi pergerakan pasar modal di kawasan Asia, termasuk pasar saham Indonesia.

Pada pukul 10:16 pagi waktu setempat, indeks Kospi merosot 431,69 poin atau 7,18 persen ke posisi 5.577,12. Penurunan tajam tersebut memicu penghentian sementara pesanan jual terprogram selama lima menit di pasar Kospi dan pasar Kosdaq. Indeks Kosdaq juga tercatat melemah 7,27 persen ke level 764,01.

Aksi jual meluas akibat rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) AS September pada Rabu (14/10) yang naik 3,7 persen secara tahunan, melampaui perkiraan pasar sebesar 3,6 persen. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran akan kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Kekhawatiran atas beban pendanaan investasi AI juga menghantam dua saham raksasa produsen chip memori, yakni Samsung Electronics Co. dan SK Hynix Inc. Pada perdagangan pagi, saham Samsung Electronics melemah 8,41 persen menjadi 212.500 won atau sekitar USD154 per saham, sedangkan SK Hynix anjlok 10,78 persen ke posisi 1.266.000 won atau sekitar USD918 per saham.

Aksi jual saham AI kian terakselerasi setelah saham perusahaan cloud AI AS, CoreWeave, anjlok 15,46 persen dalam sehari akibat peningkatan imbal hasil obligasi korporasinya di atas 15 persen. Hal ini memicu kecemasan pasar atas perlambatan pemesanan komponen memori bandwidth tinggi dan DRAM server ke produsen Korea Selatan.

Pasar kini mulai mengalihkan fokus penilaian pada sektor teknologi dan infrastruktur AI.

"Pasar sekarang menilai siklus investasi AI kurang berdasarkan laju pengeluaran modal dan lebih berdasarkan pengembalian atas modal yang diinvestasikan dan stabilitas pendanaan," kata Analis Kiwoom Securities Han Ji-young sebagaimana dikutip dari laporan analisisnya pada Kamis (15/10).(*)