EmitenNews.com - DMS Propertindo (KOTA) medio 2026 membukukan laba bersih Rp16,04 miliar. Berbalik melonjak 213,59 persen dari episode sama tahun sebelumnya dengan tabulasi rugi Rp14,12 miliar. Dengan hasil itu, laba per saham dasar menjadi Rp1,5 dari sebelumnya minus Rp1,3.

Pendapatan Rp67,29 miliar, melejit 287,61 persen dari posisi sama tahun sebelumnya Rp17,36 miliar. Beban pokok pendapatan Rp15,45 miliar, bengkak signifikan dari fase sama tahun lalu Rp5,98 miliar. Laba kotor terakumulasi Rp51,84 miliar, melonjak 355,93 persen dari sebelumnya Rp11,37 miliar.

Beban usaha Rp27,07 miliar, bengkak dari Rp16,28 miliar. Penghasilan lain-lain Rp5,36 miliar, melejit 12.814 persen dari minus Rp42,2 juta. Beban keuangan bengkak menjadi Rp13,21 miliar dari Rp9,17 miliar. Total ekuitas Rp1,25 triliun, melesat dari akhir tahun sebelumnya Rp1,23 triliun. 

Siapkan Dana Jumbo

Jumlah liabilitas Rp661,1 miliar, menciut dari akhir 2025 senilai Rp732,81 miliar. Total aset Rp1,91 triliun, susut dari akhir tahun lalu Rp1,97 triliun. Di sisi lain, KOTA tengah menyiapkan dana jumbo senilai Rp4,4 triliun. Dana segar tersebut untuk mengakuisisi Art Design Indonesia (ADI), dan Mandirinusa Graha Perkasa (MGP).

Dana taktis tersebut untuk mencaplok 1.206.272 saham alias 99,99 persen saham ADI senilai Rp1,2 triliun, dan mengambilalih 6.413.296 helai atau 99,99 persen saham MGP sebesar Rp3,2 triliun. Saham ADI dan MGP diakuisisi dari Michel Energi. Dana akuisisi itu, dari rencana right issue 100 miliar lembar dengan nominal Rp25.

Maksimalkan Lahan Maja & Surabaya 

Rencana pengambilalihan ADI dan MGP merupakan langkah strategis untuk memperkuat basis aset sekaligus memperluas pijakan bisnis perseroan melalui penguasaan land bank strategis dengan total sekitar 571 hektare (Ha).

Pengambilalihan ADI memberi akses terhadap lahan seluas sekitar 23 ha di Surabaya, salah satu pusat aktivitas ekonomi dan perdagangan Indonesia bagian timur, sedangkan pengambilalihan MGP memberi penguasaan atas sekitar 548 ha di Maja, kawasan yang memiliki potensi pertumbuhan seiring dengan perkembangan hunian, konektivitas transportasi, kebutuhan kawasan industri dan logistik. (*)