EmitenNews.com - Keputusan Bursa Efek Indonesia untuk mempertahankan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) di jajaran indeks elit LQ45 untuk tiga bulan ke depan (Agustus-Oktober) menjadi angin segar bagi persepsi pasar (PT Bursa Efek Indonesia, 2026). Masuknya DEWA untuk periode kedua secara beruntun ini menegaskan statusnya sebagai salah satu saham favorit yang likuid. 

Kendati demikian, bertahan di panggung indeks paling elit tidak serta-merta menjamin bahwa kinerja keuangannya bersih tanpa catatan. Untuk melihat apakah euforia saham ini didukung oleh fundamental yang benar-benar kokoh, investor perlu membedah rapor keuangan asli DEWA di kuartal II-2026, khususnya bagaimana hubungan operasionalnya dengan sang induk semang, PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

Bedah Catatan 24: Ketergantungan 100% pada Induk Semang

Sepanjang enam bulan pertama di 2026, DEWA mencetak pendapatan jasa pertambangan sebesar Rp3,20 triliun (PT Darma Henwa Tbk, 2026). Temuan paling menarik dari laporan keuangan ini berada di Catatan 24, di mana seluruh atau 100% pendapatan DEWA kini murni berasal dari pihak berelasi di dalam ekosistem grup BUMI. 

PT Kaltim Prima Coal (KPC) menjadi penyumbang terbesar senilai Rp2,34 triliun, disusul oleh PT Arutmin Indonesia sebesar Rp861,24 miliar (PT Darma Henwa Tbk, 2026). Berbeda dengan periode yang sama tahun lalu ketika DEWA masih mengantongi pemasukan dari pihak ketiga dan jasa lainnya, hilangnya pos pendapatan eksternal ini mengonfirmasi bahwa DEWA saat ini beroperasi penuh secara eksklusif hanya untuk melayani urat nadi produksi BUMI.

Bedah Catatan 25: Jurus Hemat Lewat Puasa Subkontraktor

Di tengah pendapatan yang cenderung stabil, DEWA ternyata berhasil melakukan efisiensi besar-besaran pada aktivitas operasional di lapangan. Rahasia di balik kemampuan perusahaan menekan beban pokok terjawab pada Catatan 25 Laporan Keuangan, di mana biaya subkontraktor dipangkas tajam dari Rp792,00 miliar menjadi Rp478,78 miliar (PT Darma Henwa Tbk, 2026). 

Langkah penghematan ini terlihat nyata dari berkurangnya ketergantungan DEWA pada jasa PT Pama Persada Nusantara, yang porsinya terhadap total pendapatan grup menyusut dari 19,14% menjadi 12,83% (PT Darma Henwa Tbk, 2026). Sebagai gantinya, DEWA menggenjot penggunaan armada alat berat milik sendiri, yang tercermin dari membengkaknya beban penyusutan aset tetap menjadi Rp498,37 miliar serta naiknya biaya perbaikan dan pemeliharaan menjadi Rp457,51 miliar (PT Darma Henwa Tbk, 2026). Strategi "puasa" subkontraktor ini terbukti jitu membuat margin laba kotor perusahaan jadi jauh lebih tebal.

Hati-Hati, Laba Bersih Melesat Bukan Murni dari Jasa Tambang

Meskipun angka laba bersih yang dilaporkan melonjak drastis dan mempercantik tampilan kinerja DEWA sebagai penghuni LQ45, investor tetap perlu berhati-hati. Keuntungan dari bisnis operasional murni DEWA sebenarnya masih dibayangi oleh pembengkakan beban umum dan administrasi, serta lonjakan beban keuangan sebesar 70,34% akibat peningkatan fasilitas pinjaman baru (PT Darma Henwa Tbk, 2026).