EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup melemah 0,75 persen menjadi 6.146. Secara teknikal, IHSG masih bertahan di atas level MA5, dan MA10. Penyempitan histogram negatif MACD masih berlanjut, dan Stochastic RSI melanjutkan kenaikan di area pivot.

Oleh sebab itu, sepanjang perdagangan Kamis, 8 Oktober 2026, IHSG berpotensi menguji level 6.200-6.230. Cadangan devisa Indonesia turun ke level USD146,3 miliar September 2026 dari level edisi Agustus 2026 di kisaran USD146,5 miliar.

Penurunan itu, tersebab penarikan pinjaman luar negeri Pemerintah, dan penerimaan pajak dan jasa, di tengah pembayaran kembali utang luar negeri Pemerintah, serta langkah stabilisasi nilai tukar Rupiah oleh Bank Indonesia. Cadangan devisa itu, mampu membiayai 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor, dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

Cadangan devisa relatf stabil tersebut memberi sinyal Bank Indonesia masih memiliki ruang memadai untuk menjaga stabilitas Rupiah. Itu karena Bank Indonesia juga memiliki berbagai instrumen lain untuk menjaga kestabilan Rupiah. Selanjutnya, investor akan mencermati indeks keyakinan konsumen diperkirakan di level 118 pada September 2026.

Pertumbuhan uang primer (M0) adjusted 9,3 persen YoY pada September 2026, melanjutkan tren positif pada Agustus 2026 tumbuh 16,3 persen YoY. Perkembangan uang primer itu, dipengaruhi pertumbuhan peredaran uang kartal. Uang kartal beredar tumbuh 11,8 persen YoY September 2026, dan giro bank umum tumbuh 3,9 persen YoY.

Berdasar data itu, Phintraco Sekuritas menyarankan investor untuk menyerap sejumlah saham unggulan berikut. Yaitu, Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Era Media (DOOH), Telekomunikasi Indonesia alias Telkom (TLKM), Bumi Resources Mineral (BRMS), dan Pertamina Geothermal Energy (PGEO). (*)